Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3931
Senin, 4 Syawal 1447
Bahagia Mengekalkan Aura Ramadhan
Saudaraku, bulan Ramadhan 1447 telah berlalu, namun ruh atau auranya, tentu tidak boleh pergi. Setiap Ramadhan meninggalkan jejak ketaatan, jejak ketenangan, jejak kedekatan dengan Allah, dan jejak keindahan ibadah yang seharusnya sehingga kita bergelar takwa. Maka seyogyanya tidak pudar oleh berlalunya waktu sampai nanti insyaallah kita dididik dan dipertemukan dengan bulan-bulan Ramadhan yang akan datang untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita.
Setiap Ramadhan merupakan musim kebaikan bagi banyak orang Islam, maka sejatinya ia adalah latihan untuk sepanjang kehidupan. Ia datang bukan untuk tinggal selamanya, tetapi untuk mengajarkan bagaimana kita hidup setelahnya. Allah berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah tidak memiliki batas waktu. Ia tidak berhenti di Ramadhan. Ia adalah perjalanan panjang hingga akhir hayat. Maka, kebahagiaan sejati bukan hanya ketika kita merasakan keindahan Ramadhan, tetapi ketika kita mampu mengekalkan auranya dalam kehidupan sehari-hari.
Aura Ramadhan adalah cahaya yang harus kita jaga. Aura Ramadhan memvadilitasi suasana batin kita dipenuhi iman. Hati kita mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, untaian hikmah dan petuah. Auranya adalah jiwa yang ringan untuk beribadah, ia adalah keinginan kuat untuk berbuat baik. Dan selama Ramadhan, kita merasakan kedekatan dengan Allah. Shalat terasa lebih khusyuk, Al-Qur’an lebih sering dibaca, sedekah lebih ringan dilakukan, dan dosa lebih dijauhi.
Pertanyaannya, apakah semua itu akan hilang setelah Ramadhan? Padahal Rasulullah saw bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menjadi kunci: yang penting bukan banyaknya amal di satu waktu, tetapi keistiqamahan setelahnya.
Ya, istiqamah adalah bukti takwa yang yang sebenarnya Ramadhan mengajarkan kita untuk beribadah dengan penuh semangat. Namun setelah Ramadhan, yang diuji adalah keistiqamahan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…”(QS. Fussilat: 30)
Istiqamah adalah menjaga nyala api iman agar tetap hidup, meskipun tidak sebesar saat Ramadhan. Ia adalah bukti bahwa kita benar-benar mencintai Allah, bukan hanya mencintai bulan Ramadhan semata.
Maka agar cahaya atau aura Ramadhan tetap hidup dalam diri, beberapa langkah sederhana namun bermakna dapat dilakukan: pertama, menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah. Jika di Ramadhan kita rajin ke masjid, maka setelahnya tetap berusaha mempertahankannya.
Kedua, melanjutkan tilawah Al-Qur’an.
Walaupun tidak sebanyak di Ramadhan, tetap menjaga interaksi harian dengan Al-Qur’an.
Ketiga, membiasakan puasa sunnah. Seperti puasa enam hari di bulan Syawal atau puasa Senin-Kamis.
Keempat, menjaga lisan dan akhlak terpuji. Tidak kembali pada kebiasaan buruk seperti ghibah, marah berlebihan, menebar hoaks, menebar permusuhan atau berkata kasar.
Kelima, tetap ringan bersedekah. Walaupun sedikit, tetapi dilakukan secara konsisten.
Keenam, menjaga hati tetap dekat dengan Allah melalui lisan yang ringan betdzikir, doa, dan menyadari bahwa Allah selalu mengawasi.
Bila ini bisa kita dawamkan di bulan ini dan seterusnya, maka sejatinya "Ramadhan" yang tidak benar-benar pergi. Bulannya memang telah berlalu, tetapi sejatinya ia tetap hidup dalam hati kita sebagai orang-orang yang menjaga nilai-nilainya. Jadi bahagia bukan hanya karena pernah merasakan Ramadhan, tetapi karena mampu membawa Ramadhan dalam setiap langkah kehidupan.
Jika setelah Ramadhan kita masih menjaga shalat, masih mencintai Al-Qur’an, masih ringan bersedekah, dan masih menjaga hati, maka sesungguhnya Ramadhan masih bersama kita. Dan itulah tanda bahwa kita tidak hanya “melewati” Ramadhan, tetapi dididik oleh Ramadhan. Karena pada akhirnya, Ramadhan yang paling indah bukan yang datang dan pergi, tetapi Ramadhan yang meninggalkan cahaya yang terus menyala dalam jiwa hingga kita bertemu dengan Allah. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3931