Bahagia Meraih Lailatul Qadar

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3925
Selasa, 28 Ramadhan 1447

Bahagia Meraih Lailatul Qadar
Saudaraku, di antara karunia terbesar yang disediakan Allah atas manusia di hari-hari terakhir bulan Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar. Ia adalah sebuah malam atau saat yang penuh kemuliaan, malam yang nilai keberkahannya melampaui seribu bulan, seluruh waktu dalam kehidupan manusia secara umum. Maka malam itu bukan sekadar malam biasa, tetapi malam yang Allah jadikan sebagai puncak keberkahan Ramadhan.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3). Seribu bulan setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam Lailatul Qadar lebih bernilai daripada seluruh umur manusia yang penuh dengan ibadah. Inilah keajaiban spiritual yang Allah anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad saw

Ramadhan mendidik manusia untuk menggapai kemuliaan malam itu dengan kesungguhan hati. Ia menghendaki manusia untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, dan mempererat relasi dan kedekatan dengan Ilahi. Dan menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk hidupnya. Allah melanjutkan firmanNya “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 4–5)

Ayat ini menggambarkan suasana Lailatul Qadar sebagai malam yang dipenuhi kedamaian. Para malaikat turun membawa keberkahan, rahmat, dan ketenangan bagi hamba-hamba yang beribadah. Hati orang-orang beriman putih berseri dipenuhi oleh kedamaian atas kebaikan yang diilhamkan oleh malaikat kepadanya. Sehingga dalam kesehariannya di seluruh hidupnya hanya dihiasi dengan salam kesejahteraan dan menebarkannya untuk kehidupan.

Dan Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh dalam mencari malam tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat istimewa. Pada malam-malam itulah seorang mukmin semestinya sudah sampai pada maqam tertentu, kekudusan hati, terindikasi pada banyaknya amal ibadah dan amah shalih, sehingga sangat dekat pada Allah dan sesama.

Sesungguhnya Lailatul Qadar bukan hanya tentang waktu yang penuh keberkahan, tetapi juga tentang kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Pada malam itu, doa-doa dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati. Air mata taubat mengalir dalam keheningan malam. Hati manusia yang lelah oleh kehidupan dunia menemukan ketenangan dalam sujud kepada Allah.

Ummul mukminin Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang doa yang sebaiknya dibaca jika seseorang menjumpai Lailatul Qadar. Rasulullah saw menjawab: “Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi)

Doa ini menunjukkan bahwa di antara inti dari Lailatul Qadar adalah permohonan ampunan. Manusia datang kepada Allah dengan kerendahan hati, mengakui kelemahan dirinya, dan memohon agar dosa-dosanya dihapuskan. Benar-benar dihapus tidak sekedar dimaafkan.

Nah, agar kita benar-benar merasakan keberkahan Lailatul Qadar, Ramadhan mengajarkan beberapa langkah praktis. Pertama, menghidupkan atau qiyamuramadhan dengan shalat. Melaksanakan shalat tarawih, qiyamul lail, dan memperpanjang sujud dengan penuh kekhusyukan. Kedua, memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Merenungkan ayat-ayat Allah dan menjadikannya sebagai cahaya bagi kehidupan. Ketiga, memperbanyak dzikir dan istighfar. Mengisi malam dengan mengingat Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosa. Keempat, memperbanyak doa. Memohon kepada Allah agar diberikan kebaikan di dunia dan di akhirat. Kelima, melakukan i’tikaf di masjid. Berdiam diri di rumah Allah untuk lebih fokus dalam ibadah dan menjauh dari kesibukan dunia.Keenam, memperbanyak sedekah dan kebaikan.Karena setiap amal kebaikan pada malam tersebut memiliki nilai yang sangat besar.

Ramadhan sebenarnya sedang mendidik kita untuk mencari sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan spiritual sebuah malam yang mampu mengubah perjalanan hidup manusia. Lailatul Qadar adalah malam ketika seorang hamba dapat mendekat kepada Allah dengan penuh harapan dan kerendahan hati. Maka bahagia Ramadhan adalah ketika hati kita benar-benar merindukan malam itu malam ketika doa-doa dipanjatkan dengan air mata, dosa-dosa dihapuskan oleh ampunan Allah, dan kehidupan dipenuhi cahaya keberkahan. Karena pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang lebih baik dari seribu bulan, tetapi malam ketika seorang hamba menemukan kembali jalan pulang kepada Allah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama