Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3904
Selasa, 7 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Keikhlasan
Saudaraku, setelah merenungi bahwa Ramadhan mendidik kita dalam hal kesabaran dan kedisiplinan, maka muhasabah kali ini kita sampai pada inti dari seluruh amal yaitu keikhlasan. Sebab amal tanpa keikhlasan ibarat badan tanpa ruh, bahkan meski tampak hidup sekalipun, tetapi sejatinya kosong dari makna.
Nah, Ramadhan merupakan madrasah keikhlasan yang paling nyata. Mengapa? Karena di dalam puasa, amalan sesungguhnya tidak terlihat oleh manusia. Kita bisa saja berpura-pura berpuasa di hadapan orang lain, tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi. Maka puasa adalah latihan paling intensif untuk menghadirkan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Bahkan di tempat yang sunyipun kita tidak akan minum barang seteguk air.
Allah Ta’ala berfirman: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5). Ayat ini menegaskan bahwa inti dari seluruh ibadah adalah memurnikan niat hanya karena Allah. Rasulullah bersabda “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain tentang puasa, Allah berfirman (hadits qudsi): “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Inilah kedahsyatan puasa, ia begitu dekat dengan keikhlasan, sehingga balasannya langsung dari Allah, tanpa perantara, tanpa batas besarannya.
Tetapi saudaraku, keikhlasan itu tidak mudah. Ia sering tersembunyi, bahkan dari diri kita sendiri. Kadang kita sudah beramal karena Allah, tetapi terselip keinginan untuk dipuji. Kadang kita berbuat baik, tetapi berharap dilihat. Kadang kita membantu, tetapi ingin diapresiasi. Di sinilah Ramadhan hadir untuk membersihkan niat itu secara perlahan.
Ya, Ramadhan melatih keikhlasan. Ramadhan mengajarkan kita: berbuat tanpa harus terlihat, memberi tanpa harus diketahui, beribadah tanpa harus diapresiasi oleh sesama. Dan dalam praktik keseharian, keikhlasan bisa kita latih dengan amalan-amalan praktis..
Kita berikhtiar meluruskan niat sebelum, saat, dan setelah beramal dengan bertanya dalam hati: “Untuk siapa ini aku lakukan?” Lalu berpuasa dengan kesadaran penuh bahwa hanya Allah yang mengetahui kualitasnya. Bersedekah secara diam-diam, tanpa diumumkan atau diposting. Memperbanyak ibadah di waktu sunyi, seperti qiyamul lail saat orang lain terlelap. Menahan diri dari keinginan untuk dipuji atau diakui, bahkan ketika telah berbuat kebaikan.
Saudaraku, orang yang ikhlas tidak sibuk dengan penilaian manusia. Ia tidak lelah meski tidak dipuji, tidak kecewa meski tidak diapresiasi. Karena ia tahu, cukup Allah yang melihat, cukup Allah yang menilai, cukup Allah yang menghargai. Makanya ada banyak orang-orang tidak populer di bumi, tetapi dielu-elukan di langit.
Keikhlasan melahirkan ketenangan. Ia membebaskan hati dari beban pencitraan. Ia menjadikan amal terasa ringan, karena tidak dibebani oleh harapan dunia. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menanam benih keikhlasan itu. Jika selama sebulan kita mampu melatih diri untuk ikhlas beramal hanya karena Allah, maka setelah Ramadhan, kita akan menjadi pribadi yang lebih jernih dalam niat, lebih tenang dalam amal, dan lebih dekat dengan Rabb kita.
Maka berbahagialah kita yang dididik oleh Ramadhan menjadi hamba yang ikhlas. Karena sejatinya, bukan banyaknya amal yang menyelamatkan, tetapi keikhlasan di dalamnya. Semoga Allah membersihkan niat-niat kita, menerima amal-amal kita, dan menjadikan kita hamba yang ikhlas dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3904