Doa yang Spektakuker

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3291
Klaten, Tasyrik ke-1, Selasa 11 Zulhijah 1445

Doa yang Spektakuler
Saudaraku, saat merayakan Idul Adha sudah lazim bila kita diwasiatkan akan ketaatan yang amat menyejarah dari sebuah keluarga, yakni keluarga Nabi Ibrahim as sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu. Banyak sekali ibrah yang dapat dipetik dari ketaatan keluarga Nabi Ibrahim. Kini kita akan mengingat kembali tentang doa atau permohonan Nabi Ibrahim yang amat spektakuler. 

Adiknda Sri Guntoro menulis cerita untuk saya sampai  pada doa Nabi Ibrahim.  Tulisnya, "sebuah lembah yang dinamakan Bakkah.  Tempat yang sunyi. Tak ada satupun kehidupan yang ada di sana. Tak ada tumbuhan yang tumbuh di tempat itu, bahkan rumputpun tak kuasa untuk hidup di sana. Sejauh mata memandang terlihat hamparan padang Sahara yang terpampang.Tak ada oase.  Tak ada sumber air. Gersang. Demikian gambaran lembah Bakkah.

Sekira 2000 tahun sebelum Masehi, Bakkah kedatangan tamu-tamu yang tak biasa. 
Ada dua orang berkendara seekor unta, mulai memasuki Bakkah. Sesampai di tengah lembah di sisinya ada gundukan batu yang seakan tersusun sebelumnya. Keduanya turun dari kendaraan itu. Nampak lelah menggelayut di wajah-wajah itu.
Ternyata mereka telah menempuh jarak ribuan kilo dari tempat asalnya (1.250 km). Mereka berasal dari negeri Kan'an.

Setelah keduanya turun melepas lelah. Ternyata mereka dua orang sejoli yang telah dikaruniai seorang putra yang masih bayi. Sang anak masih asyik masyuk di gendongan sang ibu yang sedari awal tetap diam mengikut "titah" sang suami.

Sang ibu itu masih diam, hingga sebuah peristiwa kemudian terjadi di luar nalar pikiran manusia biasa. Sang suami yang juga ayah dari anaknya semata wayang, bangkit dari duduknya dan kemudian mulai melangkah pergi. Kuat dugaan sang istri, suaminya melangkah pergi untuk meninggalkan mereka berdua. Ternyata benar. Sang suami terus melangkah dan mulai menjauh dari tempat mereka berada.

Fitrah naluri seorang istri menyeruak ke permukaan. Lisan mulai berucap dan memanggil sang suami._"Suamiku mengapa kami ditinggal di sini?"_ Hening. Tak ada jawaban. Hanya semilir angin dan deru Sahara yang terdengar. Sang suami terus melangkah menjauh.

Sang istri kembali bertanya, _"Suamiku mengapa kami ditinggal di sini?"_ Tetap tak ada jawaban. Sampai kesekian kali sang istri terus memanggil suaminya, tetap tak ada jawaban. Akhirnya sang istri mengganti pertanyaan nya,_"Apakah ini perintah Allah?"_

Demi mendengar pertanyaan itu. Suaminya berhenti. Iapun menoleh dan berkata "Benar. Ini adalah perintah Allah." Selesai berkata demikian sang suami kemudian bergegas melangkah pergi. Iapun tidak menoleh lagi dan terus melangkah. Meninggalkan pasangan hidupnya dan sang buah hati di lembah Bakkah. 
 
Betapapun berat dan memilukan, Ibrahim taat melakukannya, karena titah Allah Rabbnya. Banyak doa yang dipanjatkan kepada Allah. Doa-doa Nabi Ibrahim diabadikan dalam al-Quran, di antaranya Surat Al-Baqarah ayat 126, Allah berfirman

 وَاِذۡ قَالَ اِبۡرٰهٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارۡزُقۡ اَهۡلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡهُمۡ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ؕ قَالَ وَمَنۡ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ‌ؕ وَبِئۡسَ الۡمَصِيۡرُ‏
 
Wa idz qaala Ibraahiimu Rabij 'al haaza baladan aaminan warzuq ahlahu minas samarati man aamana minhum billahi wal yaumil aakhiri qaala wa man kafara faumatti'uhuu qaliilan summa adtarruhuuu ilaa 'azaabin Naari wa bi'salmasiir. 

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, "Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Dalam sejarah yang mengesankan saat Ibrahim dan Siti Hajar beserta Ismail si jabang bayi tiba di Bahkan (Makkah) dan kemudian ditinggalkannya, kondisi alam Makkah saat itu relatif " sangat keras" tandus dan tidak berpenghuni. Tetapi perhatikanlah doa Nabi Ibrahim di atas yang amat fantastis, spektakuler, kontras 180 derajat dengn kenyataannya. 

Dan baru terbukti terkabul doa Nabi Ibrahim jauuuh setelahnya, Makkah menjadi negeri yang religius, aman, warganya makmur sejahtera, tamu-tamunya dilayani amat istimewa, aneka buah-buahan melimpah, negeri petro dolar, dan pusat peribadatan internasional. Oleh karenanya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim amat visioner. Dan ibrahnya, kita boleh berdoa hal yang sama atau hal-hal "luar bisa" lainnya, InsyaAllah akan menjadi kenyataan. Persoalan kapan menjadi kenyataan dan dia kita terkabul, biarlah Allah yang maha tahu yang menentukannya. 

Memori ibadah haji, Muhasabah 11 Zulhijah 1444
Jamarat 
Saudaraku, seperti sudah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu bahwa kegiatan setelah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah adalah melempar jumrah di jamarat. Jamarat adalah tempat para jamaah haji "melempar setan" dengan tiga lokasi pilar yang terletak berdekatan satu sama lain dalam garis lurus di Mina. Masing-masing bernama Ula, Wustha dan Aqabah.

Pada hari raya Idul Adha yakni hari ke-10 Dzulhijjah, jamaah haji harus melontar jumrah aqabah/Al-Jamrah Al-Aqaba dengan tujuh batu kerikil. Setelah pelontaran selesai, setiap jamaah sudah boleh beratahul dengan memotong atau mencukur rambutnya. Kemudian, pada 11, 12, dan 13 Zulhijjah, jamaah harus melontar jumrah ula, jumrah wustha, dan jumrah aqabah dengan masing-masing tujuh batu kerikil, secara berurutan. Biasanya, kerikil yang digunakan diambil di Muzdalifah, pada malam sebelum pelontaran pertama, namun juga bisa diambil di Mina.

Lempar jamrah sebagai simbolisasi perlawanan orang-orang beriman terhadap - bujuk rayu, gangguan dan godaan - setan sepanjang masa. Makanya dalam jamarat aqabah kita melakukannya berkali-kali hingga tujuh kali. Bahkan masih kita ulangi lagi esok selama tiga hari, kecuali bagi yang mengambil nafar awal hanya dua hari.

Bila kita perhatikan, maka apalah bahayanya bagi setan terkena lemparan batu kerikil, diulang sebanyak apapun. Apalagi setan itu kan makhluk ghaib, ada tapi tak berbentuk tak berwujud. Coba bayangkan! Bukankah seperti melempar batu pada angin. Untung saja, setannya disimbolkan dengan tiang yang kokok tak bergeming (bahasa jawanya menteleng melorok semu malah ngece) ketika kita lempar dengan batu sebesar apapun, sebanyak apapun. Jadi sekali lagi jamarat adalah simbolisasi perlawanan kita pada setan.

Nah, jamarat harus merefleksi dalam kehidupan sehari-sehari. Kita lawan setan, kita lawan bisikan kejahatan, kita lawan rayuan gombal, kita lawan kejahatan, kita lawan kebodohan, kita lawan kemiskinan, kita lawan kemalasan dan seterusnya. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama