Petuah Arafah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 9 Zulhijah 1444

Petuah Arafah
Saudaraku, kini di tanah suci jutaan jamaah merangsek dan atau sudah melakukan wukuf di Arafah setelah melakukan ihram sebelumnya sebagai rukun haji yang harus diikuti. 

Ihram itu sendiri sebagai rukun pertama harusnya disertai dengan kesadaran diri telah berniat menunaikan haji. Ia terpatri di hati sembari mengenakan pakaian khas ihram sebagai ikatan dimana telah menjadi penanda yang mengawali serangkaian pelaksanaan ibadah haji. Jutaan jamaah berihram menyatukan niat berkumpul di sini di Arafah yang mustajabah.

Ya kain ihram mengingatkan nilai kesetaraan dan kesederhanaan,  nilai yang sangat ditekankan oleh Islam pada umatnya. Dengan mengenakan pakaian ihram; dua helai berwarna putih tanpa jahitan dapat meneguhkan kesetaraan dan kesederhanaan para insan. Inilah simbol persamaan derajat kemanusiaan dan kesederhanaan. Karena pakaian lahiriah seperti warna kulit, ras, suku bangsa, partai, pangkat dan jabatan atau asesorisnya yang selama ini "dikenakan" di lingkungan sosiokulturalnya sering menjadi pembeda status sosial manusia, dan dengannya kemudian menyebabkan timbulnya sikap sombong lalu mendiskriminasi antar satu dengan lainnya. Padahal semua itu adalah pakaian yang pasti suatu saat akan ditanggalkannya dan ditinggalkan atau dilepaskan. Oleh karena itu pakaian ihram mengajarkan persamaan derajat kemanusiaan sekaligus kesederhanaan hidup.

Pakaian ihram juga simulasi mati. Dengan mengenakan pakaian ihram akan segera mengingatkan bahwa suatu ketika pakaian seperti inilah yang akan membungkus jasadnya saat ruhnya meninggalkannya. Kita mesti ingat saat badan dibalut dengan kain kafan sehingga diri ini pasrah, bersahaja, dingin teduh, tidak meronta-ronta dan jauh dari sikap sombong, serakah dan mau menang sendiri. Nah, orang yang bersikap sombong, serakah dan mau menang sendiri itu berarti sedang mengundang kematian (baca kematian hatinya).

Palaian ihram juga mengajarkan 'iffah. Saat sudah ihram, maka jamaah harus mengindahkan aturan Allah, seperti menjaga kesucian diri ('iffah) dengan tidak bercumbu mencampuri istri atau suami, menjauhkan diri dari perilaku merusak seperti mencabut atau menebangi pepohonan, berburu binatang dan menumpahkan darah. Inilah universalitas Islam, memelihara, menghidupi dan merahmati segala alam. 

Pakaian ihram juga mengajarkan sikap apa adanya dan tidak neko-neko. Saat berihram, para jamaah bersimpuh di rumah Allah (Baitullah) apa adanya; tidak ada embel-embel pangkat, kekayaan duniawiyah, bahkan tidak diperkenankan memotong kuku, menyukur rambut sekalipun agar kelihatan jelas aslinya. Persis saat nanti menghadap Ilahi.

Ya inilah ihram, Allah sedang mengajarkan universalitas, kesetaraan, kesederhanaan, simulasi kematian, tampil apa adanya dan tidak perlu neko-neko. Pesan-pesan ihram ini akan semakin diresapi saat kita wukuf di Arafah.

Ya, di padang Arafah, para jamaah melakukan wukuf, berdiam diri atau menghentikan diri dari aktivitas keduniawian apapun, sehingga bisa khusyuk melakukan muhasabah dan mengenali diri, mengenali semesta dan mengenali Allah. Oleh karenanya saat wukuf, kita juga bisa memetik beberapa ibrah di antaranya.

Pertama, media makrifat al-insan. Wukuf menyediakan kesempatan yang luas untuk berdiam diri berkontemplasi agar menemukan jati diri sembari berdoa dan berzikir semampunya. Padang 'Arafah benar-benar mengkodisikan akan tersedianya kesempatan seluas padang yang membentang untuk mengenali diri ('arafa) sehingga menjadi pribadi yang sadar diri arif nan bijaksana. Karena man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa rabbahu, sesiapa saja yang mengenali dirinya, maka pasti akan mengenali (dan mengabdi pada) Rabbnya.

Nah, pertanyaan siapa saya? untuk apa dilahirkan? untuk apa di sini? siapa yang menjadikan saya seperti sekarang ini? berapa lama lagi di sini di dunia ini? Lalu bagaimana kesudahan setelah tidak hidup di dunia ini? Ke mana jasad dan ruh diri ini nanti kembali? Pertanyaan internal seperti ini menjadi sangat penting meskipun jawaban juga tak terungkap dalam kata-kata, tapi dalam sikap dan perilaku keseharian sesudahnya. Oleh karena itu, di antara indikator hajinya mabrur diterima oleh Allah adalah kuantitas dan kualitas keimanannya meningkat, terbukti semakin khusyuk ibadahnya, baik perilakunya dan menyayangi sesamanya.

Kedua, media tazkirah adanya pengadilan Ilahi. Saat wukuf akan segera terbayang bahwa suatu saat nanti di alam akhirat manusia juga akan dikumpulkan di padang makhsyar dimana saat itu akan diumumkan oleh pengadilan Ilahi akan kesejatian diri masing-masing orang. Oleh karenanya sedari di sini dan sedini mungkin, mengenali diri menjadi kunci mencintai Ilahi.
Kita diingatkan bahwa apapun perbuatan yang kita lakukan sekarang, pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat. Siapa yang bersyukur sembari terus menyemai biji-biji kebaikan, maka akan menuai buah manis berupa kebahagiaan di surga, dan sebaliknya sesiapa yang kufur dan menabur kejahatan, maka akan merasakan pahitnya kesengsaraan neraka.
Pengadilan Ilahi yang seadil-adilnya akan digelar di padang makhsyar saat seluruh manusia dikumpulkan, sehingga jelas siapa-siapa yang berada di jalan yang benar saat hidup di dunia dan siapa-siapa yang salah jalan hidupnya dan menyombongkan diri dengan kesalahannya.

Ketiga, media ta'aruf. Wukuf di Arafah menyediakan kesempatan bermuktamar internasinal di bawah panji-panji ketaatan pada Allah. Betapa tidak! Berjuta-juta orang beriman berinteraksi, bersosialisasi, saling mengenali ('arafa) untuk seiya sekata dalam memuja keagungan Rabbnya.

Dalam historisitas politik Islam, saya menduga bahwa moment haji terutama saat sebelum atau sesudahnya dimanfaatkan juga oleh para tokoh muslim untuk berta'aruf, berkonsolidasi dan merapatkan barisan di antara kaum muslimin sedunia. Jangan-jangan, di samping melalui terbitan 'urwatul wusqa dari Mesir, ide Pan Islamismenya mendapat angin segar dan berkembang ke berbagai penjuru negeri melalui para jamaah haji sepulang dari Arsb Saudi.

Keempat, media penyadaran diri. Siapa diri ini di tengah lautan manusia di Padang Arafah yang luas seolah tak bertepi?. Saat kita perhatikan peta dunia, jangankan diri kita di tengah Padang Arafah, Kota Makkah sekalipun hanya terlihat sebuah titik kecil di antara titik-titik yang bertebaran di atas bumi Allah. Bumi Allah juga sangat kecil di antara galaksi-galaksi dalam jagad raya ini. Begitulah seterusnya. Nah, diri ini bukankah persis seperti sebutir debu di tengah hamparan padang pasir yang amat luas. Maka hanya dengan mendekatkan diri pada Allah dan senantiasa "bersamaNya", diri ini menjadi bermakna. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama