Di Armuzna

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 10 Zulhijah 1444

Armuzna
Saudaraku, tanggal 10 Zulhijah saat hari raya idul adha di negeri-negeri kaum muslim berada, maka di Tanah Suci jamaah haji melakukan aktivitas inti dari usai wukuf di Arafah menuju, singgah dan bermalam di Muzdalifah dan bersiap ke Mina untuk lontar Jamarah.

Pertama, Arafah. Arafah dengan wukufnya sudah menyediakan pengamalan dan pengalaman religius yang amat berharga pada setiap jamaah. Bagaimana tidak! Di sini setiap jamaah benar-benar melakukan muhasabah total atas diri selama ini. Perilaku dosa dan abai terhadap perintah agama disadari, kini ditaubati sepenuh hati untuk menyongsong masa depan yang lebih islami. Amal ibadah yang masih sedikit, jangankan untuk "membeli" surgaNya Allah, mungkin untuk melepaskan diri dari siksa nerakaNya saja juga tidak memadahi. Untungnya melalui Arafah, Allah mengampuni semua hambaNya, sehingga sedikit merasa lega. Kini tentu mesti berazam untuk menambahi ketaatan hanya kepada Allah jua.

Kini dengan bersimpuh berharap melalui wukuf di Arafah semoga seluruh hajat dapat terjawab. Maka dengan tekad bulat akan senantiasa mendekat ke hadirat Allah zat yang maha dekat, jamaah meninggalkan Arafah dengan sejuta kenangan dan kini menuju Muzdalifah.

Kedua, Muzdalifah. Muzdalifah (bahasa Arab: مزدلفة) adalah daerah terbuka di antara Mekkah dan Mina di tanah suci yang merupakan tempat jamaah haji diperintahkan untuk singgah dan bermalam setelah bertolak dari Arafah. Muzdalifah terletak di antara Ma’zamain (dua jalan yang memisahkan dua gunung yang saling berhadapan) Arafah dan lembah Muhassir. Luas Muzdalifah adalah sekitar 12,25 km², di sana terdapat rambu-rambu pembatas yang menentukan batas awal dan akhir Muzdalifah.

Jadi setelah wukuf di Arafah dengan seluruh haru biru munajat ke hadirat Allah ta'ala, jelang magrib jamaah sudah bersiap menunggu bus dan menuju ke Muzdalifah. Sekitar 30 menit, bus nomor 41 yang membawa kami sampai di Muzdalifah. Kini jamaah dilayani hingga melakukan pemilihan sekantong batu kerikil kira-kira berisi seratusan lebih kerikil. Jamaah tinggal memilah dan memilih batu kerikil yang agak besar agar mudah saat melontar esok hari dan hari-hari berikutnya.

Muzdalifah merupakan ruang atau tempat terbuka sehingga jamaah dengan jelas dapat menyaksikan keindahan rembulan yang sudah sepertiga lebih besarnya menerpa bumi dengan hilir mudik bus-bus besar mengangkut jamaah. Lalu lintas yang didominasi oleh bus-bus besar dan mewah hampir rapat, padat merayap mengambil dan mengangkut jamaah. Tapi sesekali juga diselingi melintasnya ambulance yang membunyikan sirine dan lampu khasnya pertanda membawa jamaah yang sakit dan atau membawa jenazah.

Selama di Muzdalifah dengan mengikuti praktik yang dilakukan oleh Rasulullah, jamaah menghadap kilbat seraya membaca Allahu Akbar, laa ilaha ilallah, Allahu ahad terus dan terus hingga berkemas berangkat ke Mina. Di sini jamaah sudah harus selesai memilah dan memilih batu-batu kerikil untuk bekal lempar jamarah di Mina nantinya.

Ketiga, Mina. Sesampai di Mina, setelah meluruskan kaki, merenggangkan otot-otot dan persendian, para jamaah segera bergegas menuju tujuan untuk melontar jamarah aqabah. Secara berombongan sekitar empat ratus jamaah kloter 1 dibagi dua kelompok untuk menyusuri jalan dan terowongan Mina untuk melakukan jamarah. 

Setelah berjalan sekitar lima kilometer, akhirnya lara jamaah berhasil melontar tujuh batu kecil ke tiang Aqabah, sehingga setelahnya jamaah  bisa melakukan tahalul awal. Kini tinggal jalan agak santai pulang ke kemah-kemah di Mina.  Alhamdulillah rukun dan kaifiyat haji inti sudah selesai ditunaikan. Semoga menjadi hahi mabrur. Dari tanah suci, kami (Sri Suyanta dan Ela Zuliyanti) memohon maaf lahir dan batin. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama