Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 7 Zulhijah 1444
Dhuyuf al-Rahman
Saudaraku, menunaikan ibadah haji itu memenuhi panggilan Allah, maka ketika sampai di tanah suci para jamaah disebut dhuyuf al-Rahman, para tamu Allah.
Karena telah memenuhi undangan atau panggilan Allah, maka para jamaah benar-benar dimuliakan oleh Allah; memperoleh layanan dan jaminan keananan dan kesejahteraan. Semuanya Allah yang mengatur. Para jamaah mendapatkan layanan spesial bahkan sejak kedatangannya. Di samping ditempatkan dan mendapatkan akomodasi yang amat nyaman menyenangkan, juga pengalaman religiusitas yang tak bisa diperhitungkan dengan harta benda seberapapun besarannya.
Pengalaman religiusitas yang kaya bagi masing-masing jamaah, akan tersimpan rapi di relung-relung hati yang paling dalam. Inilah pengalaman religius yang akan menambah ghirah dan gairah berislam lebih baik, lebih kaffah.
Hanya saja sebagai tamu Allah di rumahNya, Baitullah, kita semestinya sopan, tahu diri, menjaga akhlak, tidak greh groh, apalagi bersikap sombong. Karena bila memiliki sifat dan sikap yang kontra produktif seperti ini, maka justru dikhawatirkan akan merugikan diri sendiri. Tentu, tuan rumah tidak berkenan, sehingga kita ditegur - dengan ujian - atau diacuhkan permintaan atau bahkan kehadirannya.
Jamuan istimewa yang disediakan oleh Allah adalah ampunan dan keberkahan. Semoga kita menjadi tamu-tamu Allah (dhuyuf al-Rahnan) yang baik, yang sopan dan yang menyenangkan Allah, pemilik rumah, Baitullah. Dan menikmati ampunan dan keberkahan yang disediakanNya. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian