Berhaji Bijak

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 18 Zulkaidah 1444

Berhaji Bijak
Saudaraku, dalam iman Islam, kecerdasan itu musti holistik, fisik dan phikhis. Ya cerdas fisik atau cerdas kinestetiknya dan cerdas phsikisnya yang meliputi cerdas intelektualnya, cerdas perasaannya dan cerdas spiritualnya. 

Tentu, termasuk dalam beribadah diperlukan kecerdasan yang holitisk tersebut. Dalam penunaian ibadah haji, misalnya, terdapat banyak hal yang harus disikapi dengan cerdas dan bijak. Berikut di antara realitas yang musti dicerdasi oleh para jamaah haji.

Pertama, tuntutan banyak minum air dan kemestian pipis. Sebagaimana lazim diketahui bahwa suhu di tanah suci relatif tinggi bila dibandingkan dengan suhu di tempat selainnya. Kini suhunya 40 derajat celcius, bahkan saat puncak panas suhunya hingga 48 derajat celcius. Kondisi seperti ini menghajatkan air yang cukup. Para jamaah musti mengonsumsi air minum terutama air putih dalam jumlah yang cukup. 

Meski suasana panas hebatnya di tanah suci itu kita tidak merasa kehausan, badan tidak merasa kepanasan, dan tidak berkeringat. Mungkin inilah keberkahan di haramain. Tetapi meski tidak merasa haus dan badan tidak panas, tim dokter selalu mengingatkan agar minum, minum dan minum, setidaknya per satu jam satu gelas air. Dan menghindari dari terpaan matahari secara langsung, bila terpaksa keluar juga disarankan mengenakan payung atau penutup kepala. Hal ini dilakukan agar badan tetap sehat dan bugar, tidak terjadi dehidrasi atau gangguan kesehatan lainnya. 

Dengan banyaknya mengonsumsi air minum, tuntutan untuk buang air kecil atau pipis tentu juga semakin sering. Nah, sementara di sisi lain tuntutan memaksimalkan ibadah di masjidil haram tentu menjadi keinginan setiap jamaah. Untuk melepaskan hajat pipis, misalnya, sebenarnya toilet sudah tersedia relatif cukup. Tetapi ketika sudah beribadah di seputar Ka'bah dan dengan keramaian jamaah, seringkali membutuhkan waktu yang relatif lama, belum lagi kemestian antri di toilet. Bila sudah selesai buang hajat, juga tidak sebentar untuk kembali ke tempat semula untuk melajutkan ibadah. Oleh karena itu, untuk menyikapi dilema ini sangat tergantung pada kecerdasan kita,  maka kemudian ada ungkapan "pandai-pandai kita sajalah".

Kedua, memaksimalkan ibadah di masjidil haram dan menghemat tenaga agar tetap sehat bugar dan bertenaga sehingga dapat maksimal beribadah saat hari-hari puncak haji di arafah, muzfalifah dan mina. Sebagaimana pengalaman jamaah kloter 1, setelah delapan hari beribadah di Madinah, maka selebihnya sekitar sebulan akan berada di Makkah sampai pelaksanaan puncak haji. Oleh karena itu, untuk menyikapi hal ini juga diperlukan kecerdasan yang holistik.

Di sini, di samping kesehatan bathin kita harus menjaga kesehatan lahir, agar nantinya saat puncak haji kita busa beribadah dengan baik. Ya, di sini kita musti hemat tenaga,  Misalnya keluar hotel seperlunya saja,m tetap membawa apd alat pelindung diri seperti sandal atau sepatu, masker, payung, botol air dan seterusnya.

Ketiga, berinteraksi secara global. Dalam prosesi haji seringkali kita dihadapkan pada situasi yang dilematis, seperti saat thawaf atau sa'i dan keinginan mencium atau setidaknya memegang hajar aswad. Ya, kita atau jamaah yang berasal dari Indonesia relatif berperawakan kecil dan "lemah" bila dibandingkan dan harus berdesakan dengan jamaah haji yang berasal dari benua afrika dan amerika. Maka, tentu kita tidak harus memaksakan diri memegang hajar aswad yang selalu padat, kita sebaiknya juga tidak melawan kondisi berdesakan dengan jamaah yang amat banyak.

Semoga kita menjadi semakin bijak. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama