Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.159
Selasa, 24 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Menyelesaikan Agenda Bermakna
Saudaraku, setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita merenungkan kebahagiaan mendampingi anak-anak dalam perjalanan belajarnya, hari ini marilah kita merenungkan kebahagiaan ketika mampu menyelesaikan agenda demi agenda bermakna. Kehidupan sehari-hari selalu menghadirkan beragam amanah dan tanggung jawab. Ada kewajiban kepada Allah, tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan, pendidikan, masyarakat, serta berbagai urusan pribadi yang perlu ditunaikan. Semua membutuhkan perhatian, waktu, tenaga, dan kesungguhan. Betapa membahagiakan ketika satu demi satu agenda dapat diselesaikan dengan baik, sehingga kita dapat melangkah menuju tanggung jawab berikutnya dengan hati yang lebih lapang.
Salah satu prinsip hidup berkemajuan adalah tidak berhenti berikhtiar setelah menyelesaikan satu pekerjaan, tetapi melanjutkannya dengan pekerjaan baik berikutnya. Al-Qur'an memberikan tuntunan yang sangat indah melalui firman Allah Swt yang artinya: “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah 7–8).
Ayat ini mengandung pesan tentang kesinambungan ikhtiar. Ketika satu urusan telah selesai, jangan biarkan diri terjebak dalam kemalasan atau kehilangan arah. Beralihlah kepada urusan baik berikutnya dengan penuh kesungguhan. Selesainya satu pekerjaan bukan alasan untuk berhenti berkarya, melainkan kesempatan untuk menunaikan amanah yang lain. Namun, seluruh kesungguhan itu harus tetap diarahkan kepada Allah. Kita bekerja, berusaha, dan menyelesaikan tanggung jawab bukan semata-mata demi pujian atau pencapaian duniawi, melainkan sebagai bagian dari pengabdian kepada-Nya.
Menyelesaikan agenda demi agenda memerlukan kemampuan menentukan prioritas. Tidak semua pekerjaan memiliki tingkat kepentingan dan urgensi yang sama. Karena itu, kita perlu membedakan antara kewajiban dan keinginan, antara perkara yang harus segera ditunaikan dan perkara yang masih dapat dijadwalkan. Kewajiban kepada Allah, seperti salat lima waktu, tidak semestinya dikalahkan oleh kesibukan pekerjaan. Tanggung jawab keluarga tidak boleh diabaikan hanya karena urusan kantor. Demikian pula amanah pekerjaan tidak boleh ditunda tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam keseharian, agenda kita bisa dimulai dengan menunaikan salat malam, tilawah, salat subuh, berolahraga, mempersiapkan kebutuhan keluarga, mengantar anak belajar, kemudian berangkat bekerja. Sesampainya di tempat kerja, ada rapat yang harus dihadiri, kuliah yang perlu disampaikan, mahasiswa yang harus dibimbing, dokumen yang perlu diperiksa, dan keputusan yang harus diselesaikan. Setelah itu mungkin masih ada agenda menjemput anak, memenuhi undangan, menyelesaikan urusan keluarga, membaca, belajar, atau menyiapkan pekerjaan untuk esok hari. Semua itu merupakan rangkaian amanah yang perlu dikelola dengan cermat.
Agenda yang tertata membantu kita menjalani kehidupan secara lebih terarah, bermakna, dan produktif. Membuat daftar pekerjaan, menentukan waktu pelaksanaan, menetapkan skala prioritas, serta mengevaluasi hasil merupakan kebiasaan sederhana yang sangat bermanfaat. Kita dapat memulai hari dengan mengenali pekerjaan yang paling penting, menyelesaikannya sesuai urutan, dan tidak mudah teralihkan oleh hal-hal yang kurang mendesak. Jika ada agenda yang belum selesai, kita dapat menjadwalkan kembali secara realistis, bukan sekadar membiarkannya menumpuk tanpa kepastian.
Dalam konteks ini, kedisiplinan waktu menjadi bagian dari akhlak. Waktu adalah amanah yang tidak dapat diputar kembali. Setiap kesempatan yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada batas usia. Karena itu, orang yang menghargai waktu akan berusaha mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat, tanpa harus terjebak dalam kesibukan yang tidak terarah. Produktivitas bukan berarti melakukan sebanyak mungkin pekerjaan, melainkan menyelesaikan pekerjaan yang tepat, dengan cara yang benar, pada waktu yang sesuai, dan menghasilkan manfaat. Allah Swt. mengingatkan tentang pentingnya waktu melalui Surah Al-'Ashr yang artinya: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-'Ashr 1–3).
Surah yang singkat ini memberikan ukuran keberhasilan hidup yang sangat mendasar. Waktu tidak cukup hanya diisi dengan aktivitas, tetapi perlu diarahkan untuk memperkuat iman, mengerjakan amal saleh, menegakkan kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran. Dengan demikian, agenda yang kita selesaikan hendaknya tidak hanya membuat kita sibuk, tetapi juga menjadikan kehidupan semakin bernilai di hadapan Allah dan bermanfaat bagi sesama.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika kewajiban dapat ditunaikan tepat waktu dan amanah diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Setelah menunaikan salat, hati terasa lebih tenteram. Setelah mengantar anak belajar, ada rasa lega karena tanggung jawab keluarga telah dipenuhi. Setelah menghadiri rapat dan menyampaikan gagasan, ada kepuasan karena turut mengambil bagian dalam urusan bersama. Setelah menyelesaikan perkuliahan, membimbing mahasiswa, atau menuntaskan pekerjaan, tumbuh rasa syukur karena satu amanah telah ditunaikan. Kebahagiaan itu bukan semata-mata karena daftar pekerjaan berkurang, tetapi karena kita telah berusaha memenuhi tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.
Namun, menyelesaikan agenda demi agenda bukan berarti memaksakan diri untuk selalu sibuk. Kita tetap perlu memberikan hak kepada tubuh untuk beristirahat, hak kepada keluarga untuk memperoleh perhatian, dan hak kepada jiwa untuk menikmati ketenteraman. Istirahat yang cukup, makan dengan baik, berolahraga, bercengkerama dengan keluarga, dan menyediakan waktu untuk ibadah juga merupakan bagian dari agenda kehidupan yang penting. Prinsip berkemajuan bukanlah bekerja tanpa henti, melainkan mengelola seluruh potensi secara seimbang agar pengabdian dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Rasulullah saw. mengingatkan dalam hadis tentang pentingnya memanfaatkan kesempatan hidup:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, no. 7846; dinilai sahih oleh Al-Albani).
Hadis ini mengajak kita agar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ketika sehat, gunakan kesehatan untuk beramal. Ketika memiliki waktu luang, manfaatkan untuk belajar dan berkarya. Ketika memiliki kemampuan, tunaikan amanah dan berikan manfaat. Jangan menunggu kesempatan hilang baru menyadari betapa berharganya kesempatan itu.
Hidup yang produktif bukan hidup yang dipenuhi kesibukan tanpa arah, melainkan kehidupan yang setiap agendanya memiliki nilai pengabdian. Kita menunaikan salat sebagai hamba Allah, mengantar anak sebagai orang tua yang bertanggung jawab, mengajar sebagai pendidik yang mengemban amanah ilmu, menghadiri rapat sebagai bagian dari tanggung jawab kelembagaan, dan melayani masyarakat sebagai wujud kepedulian sosial. Bahkan pekerjaan yang tampak sederhana dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik, cara yang benar, dan tujuan yang membawa kemaslahatan.
Oleh karena itu, kita berikhtiar membiasakan diri menyelesaikan satu urusan dengan baik sebelum beralih kepada urusan berikutnya. Pantang menunda kewajiban tanpa alasan, jangan membiarkan pekerjaan menumpuk karena kurang disiplin, dan tidak juga mengorbankan hal yang lebih utama demi sesuatu yang kurang penting. Setelah satu amanah selesai, kita bersyukur, kemudian melanjutkan dengan amanah berikutnya. Kita terus bergerak, terus belajar, terus berkarya, dan tetap berharap hanya kepada Allah. Senoga