Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.161
Kamis, 26 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Mensyukuri Milad UIN Ar-Raniry
Saudaraku, ulang tahun atau milad sebuah institusi atau perguruan tinggi bukan sekadar perayaan bertambahnya usia, bukan pula hanya mengenang perjalanan panjang masa lalu. Milad adalah momentum untuk bersyukur, bermuhasabah, dan memperbarui tekad pengabdian. Sebab, usia yang panjang baru benar-benar bermakna apabila diiringi dengan semakin dalamnya ilmu, semakin luasnya kemaslahatan, semakin tinggi akhlak, dan semakin nyata kontribusinya bagi kehidupan umat, bangsa, kemanusiaan dan Islam.
Enam puluh tiga tahun UIN Ar-Raniry berkiprah dalam dunia pendidikan tinggi merupakan capaian luar biasa yang patut disyukuri. Selama lebih dari enam dekade, institusi ini telah mengambil bagian dalam mengemban amanah pengembangan pendidikan melalui pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ribuan insan telah belajar, mereguk hikmah, bertumbuh, mengabdi, dan menapaki masa depan melalui rahim akademik atau almamater UIN Ar-Raniry. Di dalamnya ada jejak para pendiri, pemimpin, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta seluruh pihak yang dengan ketulusan dan ikhtiarnya ikut membangun perjalanan institusi ini.
Enam puluh tiga tahun adalah usia yang panjang untuk sebuah institusi, tetapi perjalanan ilmu pengetahuan tidak mengenal garis akhir. Karena itu, kita patut bersyukur bukan semata-mata karena UIN Ar-Raniry telah panjang umurnya, melainkan karena usia itu terus diisi dengan karya dan pengabdian. Panjang umur institusi hendaknya berbanding lurus dengan luas manfaatnya; semakin bertambah usia, semakin bertambah pula kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.
Kita berdoa berikhtiar agar UIN Ar-Raniry tidak hanya panjang umurnya, tetapi juga semakin dalam ilmunya dan semakin bermutu risetnya. Ilmu yang dalam bukan sekadar banyaknya disiplin yang dikembangkan atau tingginya gelar akademik yang disandang, melainkan ilmu yang terus digali, diuji, dikembangkan, dan digunakan untuk memahami serta menyelesaikan persoalan kehidupan. Penelitian yang bermutu tidak berhenti pada laporan, publikasi, atau angka-angka kinerja, tetapi melahirkan temuan, gagasan, inovasi, dan rekomendasi yang mencerahkan serta memberi solusi bagi masyarakat.
Kita juga berdoa dan berikhtiar UIN Ar-Raniry semakin lebar mengepakkan kemaslahatannya. Pengabdian kepada masyarakat tidak semestinya hanya dipahami sebagai kegiatan formal untuk memenuhi kewajiban tridarma, tetapi sebagai panggilan moral dan keilmuan untuk menghadirkan manfaat. Ilmu yang tumbuh di ruang-ruang kuliah dan laboratorium harus menemukan jalannya ke tengah kehidupan: membantu masyarakat mengatasi persoalan pendidikan, memperkuat ekonomi umat, merawat lingkungan, membangun kehidupan keagamaan yang moderat, serta menumbuhkan masyarakat yang saleh, cerdas, dan berkeadaban.
Selain itu, kita berdoa dan berikhtiar jangkauan pengabdian dan pengaruh akademik UIN Ar-Raniry semakin luas. Luas bukan hanya dalam arti geografis, menjangkau berbagai daerah dan negara, tetapi juga luas dalam jejaring keilmuan, kemitraan, kolaborasi, dan keberanian berdialog dengan perkembangan zaman. Identitas keislaman dan keacehan yang menjadi kekayaan institusi hendaknya menjadi sumber inspirasi untuk berkontribusi pada persoalan-persoalan universal. Dari Aceh, UIN Ar-Raniry dapat ikut menyumbangkan gagasan bagi dunia; berakar pada nilai-nilai keislaman, tetapi terbuka terhadap ilmu pengetahuan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Namun, ada sesuatu yang tidak boleh tertinggal dalam seluruh pencapaian itu, yakni ketinggian akhlak sivitas akademika dan alumninya. Sebab, perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan orang-orang pintar, tetapi harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus beradab. Ketinggian ilmu tanpa keluhuran akhlak dapat kehilangan arah, sementara kecerdasan tanpa tanggung jawab moral dapat menjauhkan manusia dari kemaslahatan. Karena itu, keberhasilan pendidikan tinggi semestinya tercermin pada pribadi-pribadi yang jujur, amanah, rendah hati, adil, santun dalam perbedaan, serta bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya.
Allah Swt. mengingatkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang mulia, sebagaimana firman-Nya: Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah 11). Ayat ini mengingatkan bahwa ilmu semestinya mengangkat derajat manusia, bukan menjadikannya angkuh. Ilmu yang diberkahi akan menumbuhkan kerendahan hati, memperluas kepedulian, dan mendorong pemiliknya semakin dekat kepada Allah serta semakin bermanfaat bagi sesama.
Rasulullah saw. juga mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani, disebutkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Ausath).
Nilai inilah yang seharusnya menjadi ruh perjalanan sebuah perguruan tinggi. Keberhasilan institusi bukan hanya diukur dari kemegahan gedung, banyaknya program studi, jumlah mahasiswa, peringkat akreditasi, atau capaian administratif, meskipun semua itu penting. Lebih dari itu, keberhasilan sejati terlihat dari seberapa besar ilmu yang dikembangkan mampu mencerahkan kehidupan, seberapa luas penelitian memberi manfaat, seberapa nyata pengabdian menyelesaikan persoalan, serta seberapa luhur karakter orang-orang yang dilahirkannya.
Saudaraku, enam puluh tiga tahun perjalanan UIN Ar-Raniry adalah warisan sekaligus amanah. Warisan yang harus dihargai dengan mengenang jasa para pendahulu, dan amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata oleh generasi hari ini. Kita tidak boleh hanya bangga dengan sejarah yang telah ditorehkan, tetapi harus berani menulis sejarah berikutnya melalui inovasi, integritas, kolaborasi, dan pengabdian yang lebih bermakna.
Maka, milad ke-63 ini kiranya menjadi momentum untuk meneguhkan cita-cita: panjang umurnya, dalam ilmunya, bermutu risetnya, lebar kemaslahatannya, luas jangkauannya, dan tinggi akhlak sivitas akademika serta alumninya. Bukan sekadar besar sebagai institusi, tetapi juga besar manfaatnya; bukan sekadar dikenal namanya, tetapi dikenang karena pengabdiannya.
Semoga UIN Ar-Raniry terus bertumbuh menjadi perguruan tinggi Islam yang modern, profesional, dan andal dalam keislaman, kebangsaan, dan keuniversalan; melahirkan generasi yang saleh, moderat, cerdas, unggul, serta mampu merahmati semesta. Dengan demikian, bertambahnya usia bukan hanya menambah bilangan tahun, tetapi juga menambah kedalaman makna dan keluasan manfaat.
Sudahkah kita mengambil bagian dalam merawat dan memajukan UIN Ar-Raniry? Apakah ilmu, jabatan, pekerjaan, dan pengabdian kita telah memberikan manfaat bagi institusi dan masyarakat? Apakah kita turut membangun budaya akademik yang jujur, unggul, kolaboratif, dan berakhlak mulia? Sebab, masa depan perguruan tinggi bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memimpinnya, tetapi juga oleh kesungguhan seluruh warganya dalam menunaikan amanah.
Ya Allah, berkahilah usia dan perjalanan UIN Ar-Raniry yang kini di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Mujibrrahman, M.Ag. Limpahkanlah ilmu yang bermanfaat, penelitian yang bermutu, pengabdian yang membawa kemaslahatan, serta sivitas akademika dan alumni yang luhur akhlaknya. Bimbinglah para pemimpin dan seluruh warganya agar senantiasa amanah, tulus, cerdas, dan bersungguh-sungguh dalam pengabdian. Jadikanlah UIN Ar-Raniry semakin maju, semakin bermartabat, dan semakin besar manfaatnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Aamiin ya Rabbal 'alamin.