Bahagia Dapet Berkah Langit & Bumi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.152
Selasa, 17 Jumadil Awal 1448 H

Bahagia Dapet Berkah Langit & Bumi
Saudaraku, setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita diajak bahagia belajar dari guru dan pengalaman, hari ini kita melanjutkan perenungan tentang kebahagiaan meraih keberkahan dari langit dan bumi. Guru mengajarkan ilmu, pengalaman menghadirkan hikmah, sedangkan kehidupan mempertemukan kita dengan berbagai keadaan yang menguji iman, akal, dan akhlak. Di antara pelajaran penting dari perjalanan itu ialah kesadaran bahwa kebahagiaan hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi juga oleh lingkungan yang menaungi dan orang-orang yang membersamai kita.

Keberkahan dari langit dapat kita renungkan melalui hadirnya pemimpin yang amanah, adil, dan melindungi orang-orang yang dipimpinnya. Sementara itu, keberkahan dari bumi dapat kita rasakan melalui kehadiran sesama hamba Allah yang adil, penyayang, jujur, dan suka menolong. Ketika kepemimpinan dijalankan dengan tanggung jawab dan kehidupan sosial dibangun dengan kasih sayang, bumi menjadi tempat yang lebih tenteram untuk dihuni. Orang dapat bekerja dengan tenang, anak-anak bertumbuh dengan baik, ilmu berkembang, keluarga hidup dengan penuh harapan, dan masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk meraih kesejahteraan.

Keberkahan bukan sekadar melimpahnya karunia, melainkan hadirnya kebaikan yang membuat kehidupan berjalan dengan benar dan membawa manfaat. Hujan yang turun menyuburkan tanah merupakan keberkahan bagi petani. Pemimpin yang menjalankan amanah merupakan keberkahan bagi masyarakat. Guru yang tulus mendidik merupakan keberkahan bagi peserta didik. Tetangga yang peduli merupakan keberkahan bagi lingkungan. Demikian pula keluarga yang saling menyayangi, sahabat yang saling mengingatkan, serta kolega yang saling mendukung merupakan karunia yang patut disyukuri.

Allah Swt. berfirman: “Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A‘raf 96). Ayat ini mengingatkan kita bahwa keberkahan langit dan bumi merupakan anugerah Allah yang patut diharapkan melalui iman dan takwa. Keberkahan itu dapat terwujud dalam kesuburan alam, kecukupan rezeki, ketenteraman hidup, serta terbukanya jalan bagi kebaikan bersama. Iman dan takwa bukan hanya urusan pribadi yang tersembunyi dalam hati, melainkan seharusnya tercermin dalam perilaku, tata kehidupan, dan cara manusia memperlakukan sesamanya.

Pertama, bahagia berada di bawah naungan pemimpin yang amanah. Inilah salah satu keberkahan besar dalam kehidupan bersama. Pemimpin memiliki tanggung jawab untuk melindungi, melayani, menegakkan keadilan, dan memastikan bahwa kewenangan yang dimilikinya digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk kepentingan pribadi. Kepemimpinan yang amanah membuat masyarakat memiliki kepercayaan, karena keputusan diambil dengan pertimbangan yang jernih, sumber daya dikelola secara bertanggung jawab, dan hak-hak masyarakat dihormati.

Pemimpin yang amanah tidak harus selalu mampu memenuhi setiap keinginan masyarakat, sebab kemampuan, sumber daya, dan keadaan sering kali memiliki keterbatasan. Namun, ia berusaha mengambil keputusan secara adil, menjelaskan kebijakan dengan jujur, membuka ruang bagi kritik, dan tidak mengutamakan kepentingan dirinya di atas kepentingan yang lebih luas. Ia memahami bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa tanggung jawab kepemimpinan melekat pada setiap orang sesuai dengan lingkup amanahnya. Kepala negara bertanggung jawab atas masyarakat yang dipimpinnya, pimpinan perguruan tinggi bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan, dosen bertanggung jawab atas pembelajaran dan bimbingan akademik, sedangkan orang tua bertanggung jawab atas pengasuhan keluarganya. Bahkan, setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, termasuk atas pilihan, ucapan, dan tindakannya.

Karena itu, keberkahan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan seseorang, tetapi juga oleh seberapa besar manfaat yang dihadirkannya. Pemimpin yang menggunakan kewenangan untuk menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, memperbaiki pelayanan, dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkembang sedang menunaikan amanahnya. Sebaliknya, ketika kekuasaan digunakan untuk menindas, memperkaya diri, membungkam kebenaran, atau mengistimewakan kelompok tertentu secara tidak adil, keberkahan kehidupan bersama menjadi terancam.

Kita yang memperoleh amanah kepemimpinan, sekecil apa pun lingkupnya, perlu bertanya: apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa terlindungi atau justru tertekan? Apakah keputusan kita memudahkan urusan atau menambah beban yang tidak perlu? Apakah kita bersedia mendengarkan suara orang yang berbeda pendapat? Apakah kewenangan yang dititipkan kepada kita benar-benar digunakan untuk melayani? Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena pemimpin yang amanah bukan hanya pemimpin yang menuntut kepercayaan, melainkan pemimpin yang membangun kepercayaan melalui perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, bahagia hidup bersama sesama yang adil dan penyayang. Jika kepemimpinan yang amanah menjadi salah satu penopang kehidupan bersama, maka keadilan dan kasih sayang antarmanusia merupakan penopang lainnya. Kita tidak mungkin hidup dengan tenteram jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, enggan menghormati hak orang lain, dan tidak peduli terhadap penderitaan di sekitarnya. Kehidupan menjadi indah ketika manusia saling memperlakukan dengan adil, saling menghormati, dan bersedia membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Allah Swt. berfirman  “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia juga melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl 90).. ayat ini meletakkan keadilan dan ihsan sebagai pedoman penting dalam kehidupan. Keadilan menuntut kita memberikan hak kepada yang berhak, tidak memihak secara zalim, dan tidak membedakan perlakuan hanya karena kedekatan atau kepentingan pribadi. Ihsan mengajak kita melampaui sekadar memenuhi kewajiban dengan menghadirkan kepedulian, kemurahan hati, dan kesediaan memberikan yang terbaik bagi sesama.

Dalam keluarga, keberkahan hadir ketika suami dan istri saling menghormati, orang tua mendidik dengan kasih sayang, dan anak-anak belajar berbakti serta bertanggung jawab. Di lingkungan pendidikan, keberkahan tumbuh ketika dosen memperlakukan mahasiswa dengan adil, mahasiswa menghormati guru, dan seluruh warga kampus menjaga integritas akademik. Di tempat kerja, keberkahan hadir ketika kolega saling mendukung, pimpinan menghargai kontribusi, dan setiap orang menunaikan tanggung jawabnya. Di tengah masyarakat, keberkahan terasa ketika tetangga saling membantu, warga menjaga kerukunan, dan mereka yang memiliki kelebihan bersedia berbagi dengan yang membutuhkan.

Kasih sayang tidak berarti membenarkan semua tindakan atau mengabaikan kesalahan. Kasih sayang yang bijaksana tetap berjalan bersama keadilan dan ketegasan. Kita dapat menasihati seseorang tanpa merendahkannya, menegakkan aturan tanpa mempermalukan, serta menolak keburukan tanpa kehilangan sikap manusiawi. Dengan demikian, kasih sayang bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral yang membuat keadilan dapat dijalankan dengan tetap menghormati martabat manusia.

Keberkahan bumi semakin nyata ketika manusia tidak hanya menikmati kebaikan, tetapi juga menghadirkannya bagi sesama. Kita mungkin tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan besar, tetapi kita dapat membangun suasana baik dalam lingkup yang berada dalam jangkauan kita. Kita dapat menjadi orang tua yang menenteramkan, guru yang membimbing, pemimpin yang melayani, kolega yang mendukung, tetangga yang peduli, atau sahabat yang mengingatkan dengan tulus.

Sebuah sapaan yang ramah dapat mengurangi kesepian. Sebuah nasihat yang bijaksana dapat mencegah seseorang mengambil keputusan yang keliru. Bantuan kecil dapat meringankan beban keluarga yang sedang kesulitan. Sikap jujur dapat menumbuhkan kepercayaan yang menjadi dasar kerja sama. Kebaikan-kebaikan seperti ini mungkin tidak selalu terlihat besar, tetapi ketika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, ia dapat membentuk lingkungan yang aman, adil, dan membahagiakan.

Meraih keberkahan tersebut harus dengan syukur dan ikhtiar. Kita perlu menyadari bahwa keberkahan dari langit dan bumi bukan hanya sesuatu yang kita tunggu, tetapi juga sesuatu yang harus kita sambut dengan syukur dan ikhtiar. Kita berdoa agar dianugerahi pemimpin yang amanah, tetapi kita juga perlu menumbuhkan budaya amanah dalam diri sendiri. Kita berharap hidup bersama orang-orang yang adil dan penyayang, tetapi kita pun harus berusaha memperlakukan sesama dengan adil dan penuh kasih sayang.

Kita tidak dapat selalu menentukan siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang menjadi tetangga, atau siapa yang menjadi kolega. Namun, kita tetap memiliki ruang untuk menentukan sikap dan tindakan kita sendiri. Ketika berhadapan dengan ketidakadilan, kita dapat memperjuangkan perbaikan melalui cara yang benar. Ketika menjumpai kesulitan orang lain, kita dapat memberikan bantuan sesuai kemampuan. Ketika memperoleh amanah, kita dapat menjaganya. Dan ketika melakukan kesalahan, kita dapat mengakuinya serta berusaha memperbaiki akibatnya.

Inilah makna penting syukur yang disertai amal. Mensyukuri pemimpin yang amanah berarti mendukung kebaikan dan ikut menjaga budaya tanggung jawab. Mensyukuri masyarakat yang saling menyayangi berarti turut memelihara kerukunan dan kepedulian. Mensyukuri bumi yang menyediakan sumber kehidupan berarti merawat alam, menggunakan sumber daya secara bijaksana, serta tidak merampas hak generasi mendatang.

Pada akhirnya, kebahagiaan meraih keberkahan dari langit dan bumi bukan semata-mata tentang menerima keadaan yang menyenangkan. Kebahagiaan itu juga tumbuh dari kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebaikan yang telah ada dan memperbaiki keadaan yang masih perlu dibenahi. Kita berharap kepada Allah, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, serta memperlakukan sesama dengan keadilan dan kasih sayang.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama