Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.150
Ahad, Puncak Purnama, Ayyamul Bidh ke-3, 15 Jumadil Awal 1448
Bahagia Menjalin Silaturahim Akademik
Saudaraku, setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita diajak bahagia bertemu dengan orang-orang baik, hari ini kita melanjutkan perenungan tentang indahnya membangun hubungan melalui silaturahim akademik sesama kolega. Inspirasi tulisan ini muncul dari pengantar Reza Idria, Ph.D., dalam Ar-Raniry International Conference on Islamic Studies (ARICIS V), Sabtu, 24 Oktober 2026, yang menyebut istilah ziyarah akademik. Istilah ini menarik untuk direnungkan karena mengingatkan kita bahwa perjumpaan di dunia akademik tidak semestinya berhenti pada agenda formal, penyampaian hasil penelitian, atau pemaparan makalah, tetapi dapat menjadi kunjungan intelektual yang mempertemukan gagasan, pengalaman, persahabatan, dan semangat untuk bersama-sama mengembangkan ilmu pengetahuan.
Silaturahim akademik merupakan ikhtiar menyambung hubungan antarmanusia sekaligus mempertemukan hati dan pikiran untuk menumbuhkan kemaslahatan ilmu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal silaturahim sebagai upaya menjaga dan mempererat hubungan kekeluargaan. Namun, semangat silaturahim juga dapat dihidupkan dalam lingkungan akademik, ketika dosen, peneliti, guru besar, mahasiswa, dan para pemikir saling mengunjungi, mencitasi, berdialog, berbagi pengalaman, serta membangun kerja sama. Hubungan tersebut tidak hanya memperluas jaringan profesional, tetapi juga memperkaya perspektif, membuka kemungkinan penelitian baru, dan menumbuhkan persaudaraan yang melampaui batas institusi, disiplin ilmu, daerah, bahkan negara.
Dan istilah ziyarah akademik dapat kita maknai sebagai kunjungan yang membawa semangat saling belajar dan saling menghargai. Seseorang datang bukan semata-mata untuk memperkenalkan dirinya, institusinya, atau prestasinya, melainkan juga untuk mengenal pemikiran orang lain, memahami pengalaman institusi yang dikunjungi, dan menemukan ruang kerja sama yang bermanfaat. Dalam kunjungan seperti ini, setiap orang datang dengan bekal ilmu dan pengalaman, tetapi juga dengan kesadaran bahwa pengetahuannya belum lengkap. Ada yang memiliki kekuatan dalam teori, ada yang kaya pengalaman lapangan, ada yang unggul dalam metodologi, dan ada pula yang memiliki kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Ketika semua itu dipertemukan dalam suasana saling menghormati, lahirlah kesempatan untuk saling melengkapi.
Allah Swt. mengingatkan bahwa keberagaman manusia merupakan jalan untuk saling mengenal, bukan alasan untuk saling merendahkan. Firman-Nya, Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat 13).
Ayat ini memberikan landasan yang luas bagi silaturahim akademik. Perbedaan latar belakang, bahasa, tradisi keilmuan, pengalaman penelitian, dan sudut pandang bukanlah penghalang untuk membangun hubungan. Justru, keberagaman itu dapat menjadi sumber kekayaan intelektual apabila disertai sikap saling mengenal, menghormati, dan belajar. Dalam forum akademik internasional, misalnya, seorang peneliti dapat menemukan bahwa persoalan yang dihadapinya di Aceh memiliki kemiripan dengan persoalan di negara lain, meskipun konteks sosial dan budayanya berbeda. Perbandingan tersebut dapat membantu memperluas pemahaman sekaligus menghindarkan kita dari anggapan bahwa pengalaman sendiri merupakan satu-satunya ukuran untuk memahami kenyataan.
Kebahagiaan dalam silaturahim akademik tumbuh ketika kita mampu mengubah perjumpaan menjadi pembelajaran dan perbedaan menjadi kekuatan. Dalam sebuah konferensi, kita mungkin mendengarkan paparan yang memperkuat keyakinan ilmiah kita, tetapi mungkin pula menjumpai gagasan yang menggugat asumsi yang selama ini kita pegang. Keduanya dapat menjadi anugerah apabila disikapi dengan pikiran terbuka. Gagasan yang sejalan dapat memperkokoh pemahaman, sedangkan gagasan yang berbeda dapat mengajak kita memeriksa kembali argumentasi, memperbaiki metode, dan menyempurnakan kesimpulan. Dengan demikian, forum akademik bukan sekadar tempat mempertahankan pendapat, melainkan ruang untuk menguji, mengembangkan, dan memperkaya pengetahuan.
Sikap tersebut sejalan dengan semangat Al-Qur'an yang mengajarkan manusia agar mendengarkan perkataan dengan sungguh-sungguh dan mengikuti yang terbaik. Allah Swt. berfirman: Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS. Az-Zumar 17–18)
Dalam konteks akademik, mendengarkan merupakan bagian penting dari etika keilmuan. Mendengarkan bukan berarti menerima semua pendapat tanpa pemeriksaan, melainkan memberi kesempatan kepada sebuah gagasan untuk dipahami sebelum dinilai. Kita dapat berbeda pandangan tanpa kehilangan rasa hormat, mengkritik argumentasi tanpa merendahkan pribadi, serta mempertahankan pendirian tanpa menutup kemungkinan untuk belajar. Ilmu berkembang bukan hanya karena keberanian berbicara, tetapi juga karena kerendahan hati untuk mendengarkan, ketekunan memeriksa bukti, dan kesediaan mengoreksi diri ketika menemukan kekeliruan.
Silaturahim akademik juga mengingatkan kita bahwa ilmu tidak tumbuh dalam kesendirian. Sebuah karya ilmiah mungkin ditulis oleh seorang penulis, tetapi pertumbuhannya sering kali dipengaruhi oleh banyak perjumpaan: percakapan dengan kolega, kritik dari penelaah, diskusi dengan mahasiswa, bimbingan guru, serta pengalaman bekerja bersama masyarakat. Bahkan, satu pertanyaan sederhana dari seorang kolega dapat membuka jalan penelitian yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Karena itu, hubungan akademik yang baik hendaknya tidak berhenti ketika sebuah konferensi berakhir atau ketika para peserta kembali ke institusi masing-masing.
Kita dapat menindaklanjuti perjumpaan melalui berbagai langkah konkret. Seusai konferensi, misalnya, kita dapat menjaga komunikasi dengan kolega yang memiliki perhatian keilmuan serupa, bertukar artikel atau publikasi, mengadakan diskusi daring, merancang penelitian bersama, menulis artikel kolaboratif, menyelenggarakan kuliah tamu, atau membangun kemitraan antarlembaga. Kunjungan akademik juga dapat dikembangkan menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya riset, tradisi pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat di institusi lain. Yang terpenting, tindak lanjut tersebut dibangun atas dasar kebutuhan ilmiah yang nyata, pembagian peran yang adil, komitmen bersama, serta kejujuran dalam mengakui kontribusi setiap pihak.
Silaturahim akademik yang bermakna tidak diukur dari banyaknya orang yang kita kenal, tetapi dari kebaikan yang tumbuh setelah perkenalan itu terjadi. Kita mungkin bertemu puluhan atau ratusan peserta dalam sebuah konferensi, tetapi belum tentu seluruh perjumpaan berkembang menjadi hubungan yang mendalam. Sebaliknya, satu percakapan yang jujur dan bermakna dapat menjadi awal kerja sama yang panjang. Karena itu, kualitas hubungan lebih penting daripada sekadar luasnya jaringan. Jaringan akademik yang sehat bukan kumpulan nama untuk dipamerkan, melainkan komunitas orang-orang yang saling percaya, saling menghargai, dan bersedia bekerja bersama untuk menghasilkan ilmu yang bermanfaat.
Dalam hal ini, kita perlu menjaga agar hubungan akademik tidak terjebak dalam formalitas, kepentingan pribadi, atau perlombaan simbolik. Gelar, jabatan, reputasi, jumlah publikasi, dan afiliasi institusi memang memiliki tempat dalam kehidupan akademik, tetapi semuanya tidak boleh mengalahkan integritas dan kemanfaatan ilmu. Seorang akademisi tidak menjadi lebih mulia hanya karena berbicara di forum internasional atau memiliki jejaring yang luas. Kemuliaan akademik justru tampak ketika ia jujur dalam penelitian, terbuka terhadap kritik, menghormati karya orang lain, mengakui keterbatasan dirinya, dan menggunakan keahliannya untuk membantu menjawab persoalan nyata dalam kehidupan.
Alangkah indahnya apabila perjumpaan akademik melahirkan persahabatan yang tulus. Seorang profesor tetap bersedia belajar dari dosen muda; peneliti senior menghargai temuan peneliti pemula; perguruan tinggi yang telah maju bersedia berbagi pengalaman dengan institusi yang sedang berkembang; dan akademisi dari latar belakang berbeda saling membantu tanpa merasa terancam oleh keunggulan pihak lain. Dalam suasana demikian, keberhasilan kolega tidak dipandang sebagai ancaman bagi diri sendiri, melainkan sebagai kabar baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kita tidak harus menjadi orang yang paling menonjol untuk dapat berkontribusi, sebab ilmu berkembang melalui banyak peran yang saling melengkapi.
Bagi perguruan tinggi Islam, silaturahim akademik juga memiliki makna strategis. Pertemuan antarkolega dapat menjadi ruang untuk mempertemukan khazanah keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, memperkaya kajian keagamaan melalui pendekatan lintas disiplin, serta membangun respons ilmiah terhadap persoalan masyarakat. Dialog dengan akademisi dari berbagai negara dapat memperluas perspektif mengenai pendidikan Islam, moderasi beragama, kemanusiaan, lingkungan, teknologi, dan tantangan kehidupan kontemporer. Namun, keterbukaan tersebut perlu disertai keteguhan metodologis, kejelasan nilai, dan tanggung jawab moral agar kerja sama internasional tidak sekadar mengejar pengakuan, tetapi sungguh-sungguh memperkuat mutu pendidikan dan kemaslahatan umat manusia.
Di sinilah silaturahim akademik bertemu dengan semangat rahmatan lil ‘alamin. Ilmu yang berkembang melalui perjumpaan seharusnya tidak hanya memperkaya ruang diskusi, tetapi juga memperluas manfaat bagi kehidupan. Penelitian tentang pendidikan semestinya membantu memperbaiki pembelajaran; kajian tentang kemiskinan semestinya membuka jalan bagi pemberdayaan; penelitian keagamaan semestinya memperdalam pemahaman dan menumbuhkan kebijaksanaan; sedangkan inovasi teknologi semestinya memperkuat kemanusiaan, bukan mengabaikannya. Ketika hubungan akademik melahirkan pengetahuan yang bermanfaat dan tindakan yang membawa kemaslahatan, silaturahim tidak hanya mempererat hubungan antarkolega, tetapi juga menjadi jalan pengabdian kepada Allah dan sesama.
Maka, istilah ziyarah akademik yang menginspirasi muhasabah ini patut kita maknai sebagai undangan untuk menghadirkan wajah akademia yang lebih manusiawi: berilmu tanpa merasa paling tahu, berprestasi tanpa merendahkan, berbeda tanpa bermusuhan, dan berkolaborasi tanpa kehilangan integritas. Kita datang untuk berbagi, bukan sekadar menunjukkan diri; kita berdialog untuk memahami, bukan hanya untuk memenangkan perdebatan; dan kita membangun kerja sama agar ilmu yang dikembangkan bersama dapat memberi manfaat yang lebih luas. Semoga