Bahagia Menikmati Keindahan Bumi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.142
Sabtu, 7 Jumadil Awal 1448 H

Bahagia Menikmati Keindahan Bumi
Saudaraku, setelah belajar memakmurkan dan mengelola bumi sebagai amanah Allah, hari ini kita diajak merenungi sisi lain dari relasi kita dengan bumi dan Ilahi, yakni menikmati keindahannya sebagai karunia Allah yang patut disyukuri. Bumi bukan sekadar tempat kita berpijak, mencari nafkah, membangun rumah, dan menjalankan berbagai aktivitas kehidupan. Bumi juga merupakan bentangan tanda kebesaran Allah yang keindahannya mengundang kita untuk berhenti sejenak, membuka mata hati lalu menyukuri, dan menyadari betapa luas kasih sayang-Nya. 

Di tengah kesibukan mengejar berbagai keperluan, terkadang kita begitu sibuk mengurus kehidupan hingga lupa menikmati kehidupan itu sendiri. Kita menyaksikan matahari terbit, mungkin juga mengagumi cahayanya tetapi sering tidak ingat PenciptaNya; merasakan hujan, tetapi lupa mensyukuri airnya; dan melewati pepohonan, tetapi tidak menyadari kesejukan yang dianugerahkan Allah lantarannya. Kita hadir di tengah limpahan karuniaNya, tetapi belum tentu sungguh-sungguh menghayatinya, apalagi mensyukurinya.

Keindahan bumi bukan hanya untuk dipandang oleh mata, melainkan juga untuk direnungkan oleh akal dan diresapi oleh hati. Allah Swt. berfirman “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran 190). Ayat ini mengajarkan bahwa alam bukan sekadar objek yang kita lihat, tetapi juga ayat-ayat kauniyah yang mengajak kita berpikir dan mengenali Sang Pencipta. Langit yang membentang, bumi yang terhampar, matahari yang menyinari, dan malam yang menyelimuti kehidupan bukanlah peristiwa biasa tanpa makna. Di balik keteraturan dan keindahannya, terdapat tanda-tanda kekuasaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Allah. Karena itu, orang yang beriman tidak berhenti pada kekaguman terhadap ciptaan, tetapi melanjutkannya dengan perenungan yang mengantarkan kepada pengenalan terhadap Pencipta. Semakin dalam ia membaca alam, semestinya semakin tumbuh kerendahan hati di hadapan Allah.

Saudaraku, kebahagiaan sering kali tidak terletak pada banyaknya keindahan yang kita miliki, tetapi pada kedalaman kesadaran ketika menikmatinya. Kita dapat menemukan keindahan pada matahari pagi yang menghangatkan tubuh, langit senja yang memancarkan warna-warna menawan, gunung yang berdiri kokoh, laut yang membentang luas, sungai yang mengalir, dan pepohonan yang memberikan keteduhan. Kita juga dapat menemukannya pada bunga kecil yang mekar di halaman, burung yang berkicau di pepohonan, hujan yang menyuburkan tanah, serta hamparan sawah yang menghijau dan menguning mengikuti musim. Bahkan, tetes embun di ujung daun atau tunas mungil yang tumbuh dari tanah dapat menghadirkan kekaguman apabila kita bersedia memperhatikannya. Keindahan itu sesungguhnya hadir di sekitar kita; yang terkadang tidak hadir justru perhatian kita kepadanya.

Oleh karena itu, menikmati keindahan bumi tidak harus menunggu perjalanan jauh, mengunjungi tempat wisata terkenal, atau mengeluarkan biaya besar. Seorang petani dapat merasakan kebahagiaan ketika melihat tanaman yang dirawatnya tumbuh subur. Seorang ibu dapat menikmati kesejukan pagi sambil menyiram bunga di halaman rumah. Seorang ayah dapat mengajak anak-anak berjalan di taman sembari mengenalkan pepohonan dan menanamkan rasa syukur. Seorang guru dapat mengajak peserta didik mengamati lingkungan sekolah untuk belajar tentang keteraturan dan kebesaran ciptaan Allah. Seorang peneliti dapat menemukan kekaguman melalui ketelitian memahami kehidupan alam. Bahkan, seseorang yang duduk sejenak di teras rumah selepas hujan pun dapat merasakan ketenteraman ketika menyadari udara yang segar dan aroma tanah yang basah. Semua itu mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu menuntut kita pergi ke tempat lain; terkadang, kebahagiaan tumbuh ketika kita belajar hadir sepenuhnya di tempat kita berada.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim). Hadis ini mengingatkan kita tentang kedudukan keindahan dalam kehidupan seorang muslim. Keindahan bukan sesuatu yang harus dijauhi, selama dinikmati dan diwujudkan dalam batas-batas yang diridai Allah. Kita boleh mengagumi panorama alam, merawat taman, menata rumah, menjaga kebersihan lingkungan, dan menciptakan suasana yang nyaman. Namun, keindahan yang sesungguhnya tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Keindahan lahiriah semestinya berjalan bersama keindahan batiniah: hati yang bersih, tutur kata yang lembut, perilaku yang santun, pikiran yang jernih, dan kepedulian yang nyata kepada sesama. Sebab, pemandangan yang indah dapat menyejukkan mata, tetapi akhlak yang indah mampu menenteramkan hati dan membahagiakan kehidupan orang lain.

Lebih jauh, menikmati keindahan bumi mengajarkan kita untuk membebaskan kebahagiaan dari kebiasaan membanding-bandingkan. Tidak sedikit orang yang sulit menikmati apa yang dimilikinya karena terus membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain. Halaman rumah terasa kurang indah karena melihat taman tetangga yang lebih luas; perjalanan terasa kurang menyenangkan karena membandingkannya dengan liburan orang lain; bahkan pengalaman berharga terkadang kehilangan maknanya karena tidak sempat dipamerkan atau memperoleh pengakuan. Padahal, keindahan tidak selalu membutuhkan kemewahan, dan kebahagiaan tidak harus memperoleh pengesahan dari orang lain. Kita tidak perlu memiliki taman luas untuk mengagumi tanaman, tidak harus mengunjungi tempat yang terkenal untuk menikmati alam, dan tidak harus mengabadikan setiap pemandangan untuk membuktikan bahwa kita bahagia. Ada kalanya, pengalaman paling berharga justru hadir ketika kita meletakkan telepon genggam sejenak, menenangkan pikiran, memandang alam dengan saksama, lalu membiarkan hati mengucapkan syukur tanpa perlu diketahui siapa pun.

Saudaraku, dalam menikmati keindahan bumi, kita juga belajar memahami bahwa keindahan mengandung tanggung jawab. Kita tidak pantas mengagumi kejernihan sungai sambil membuang sampah ke dalamnya, menikmati rindangnya hutan sambil mengabaikan kerusakannya, atau memuji kebersihan pantai sambil meninggalkan sampah setelah berkunjung. Kita tidak mungkin sungguh-sungguh mencintai keindahan jika perilaku kita justru merusaknya. Rasa syukur semestinya melahirkan kepedulian, sedangkan kecintaan semestinya diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika menikmati taman, kita menjaganya tetap bersih; ketika berkunjung ke pantai, kita membawa kembali sampah kita; ketika merasakan kesejukan pepohonan, kita ikut merawat dan menanam tanaman; serta ketika memanfaatkan air, kita menggunakannya secara bijaksana. Dengan demikian, menikmati keindahan bumi tidak menjadikan kita sekadar penonton, tetapi juga penjaga yang bertanggung jawab atas keberlangsungannya.

Kesadaran ini semakin penting karena keindahan alam tidak selalu abadi dalam jangkauan pengalaman kita. Mata air dapat mengering, sungai dapat tercemar, hutan dapat gundul, dan udara dapat kehilangan kesegarannya ketika manusia mengabaikan keseimbangan alam. Karena itu, jangan menunggu kehilangan air bersih untuk menghargai mata air, jangan menunggu udara tercemar untuk merindukan pepohonan, dan jangan menunggu alam rusak untuk menyadari betapa berharganya lingkungan yang sehat. Kita perlu menikmati karunia yang ada hari ini sambil memastikan bahwa generasi mendatang masih mempunyai kesempatan untuk menikmatinya. Syukur yang matang bukan hanya kemampuan merasakan nikmat pada hari ini, melainkan juga kesediaan menjaga agar nikmat itu tidak hilang karena kelalaian kita.

Maka, saudaraku, sesekali kita memperlambat langkah di tengah kesibukan. Pandanglah langit, rasakan udara pagi, dengarkan suara alam, perhatikan tanaman yang tumbuh, dan renungkan betapa banyak karunia Allah yang hadir tanpa kita minta satu per satu. Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar kebahagiaan yang jauh hingga melupakan keindahan yang dekat; begitu bersemangat mencari sesuatu yang belum dimiliki hingga lalai mensyukuri apa yang telah dianugerahkan. Hidup bukan hanya tentang berapa banyak tempat yang telah kita kunjungi, berapa banyak harta yang telah kita kumpulkan, atau berapa banyak pengalaman yang dapat kita ceritakan. Hidup juga tentang seberapa dalam kita mampu menghayati karunia Allah, menemukan makna di balik keindahan, dan menjadikan pengalaman itu sebagai jalan untuk memperkuat iman serta memperhalus akhlak. Semakin peka hati kita terhadap keindahan ciptaan-Nya, semestinya semakin besar pula rasa syukur, semakin rendah hati kita di hadapan-Nya, dan semakin nyata kepedulian kita terhadap sesama serta lingkungan. Semoga


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama