Bahagia Memakmurkan Bumi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.139
Rabu, 4 Jumadil Awal 1448 H

Bahagia Memakmurkan Bumi
Saudaraku, setelah kita belajar mengabdi dengan ikhlas, cerdas, dan totalitas, kini kita diajak memahami bahwa pengabdian kepada Allah tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui tanggung jawab membangun kehidupan di bumi. Ya, sebagai ‘abdullāh, kita adalah hamba Allah yang berkewajiban beribadah kepada-Nya. Pada saat yang sama, juga sebagai khalifah di bumi, kita mengemban amanah untuk merawat, mengelola, dan memakmurkan kehidupan di bumi. Kedua kedudukan ini bukanlah dua tugas yang terpisah, melainkan dua sisi dari pengabdian yang saling melengkapi.

Allah berfirman “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56). Tentang kedudukan manusia sebagai khalifah, Allah juga berfirman  “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. al-Baqarah 30). Ayat pertama mengingatkan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah, sedangkan ayat kedua menegaskan amanah besar yang berkaitan dengan keberadaan manusia di bumi.

Memakmurkan bumi berarti menjadikan kehidupan semakin baik, adil, aman, sehat, berilmu, dan bermartabat. Karena itu, ukuran kemakmuran tidak semata-mata banyaknya gedung yang berdiri, jalan yang dibangun, atau kekayaan yang dikumpulkan. Kemakmuran juga tercermin dalam terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, terjaganya kelestarian alam, meningkatnya kualitas pendidikan, tumbuhnya kejujuran, serta terpeliharanya hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya. Bumi yang makmur bukan hanya bumi yang menghasilkan kekayaan, tetapi juga bumi yang memberikan kehidupan yang layak bagi manusia dan makhluk lainnya.

Allah mengingatkan melalui firman-Nya, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud 61). Ayat ini mengandung pesan penting tentang tanggung jawab manusia untuk membangun dan mengelola kehidupan di bumi. Kita tidak semestinya hanya menikmati kekayaan alam, tetapi juga menjaga keberlangsungannya. Kita tidak cukup mewarisi fasilitas kehidupan dari generasi terdahulu, tetapi perlu meninggalkan lingkungan, ilmu, lembaga, dan tatanan sosial yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Lalu, bagaimana memakmurkan bumi secara konkret? Seorang petani yang mengolah tanah dengan baik, menggunakan air secara bijaksana, dan menjaga kesuburan lahan sedang berkontribusi menyediakan pangan sekaligus merawat lingkungan. Seorang guru yang mendidik dengan sungguh-sungguh sedang membangun sumber daya manusia yang kelak mampu memajukan masyarakat. Seorang dokter atau tenaga kesehatan yang melayani pasien dengan profesional dan penuh empati turut menjaga kehidupan. Seorang pedagang yang jujur, tidak menipu timbangan, dan tidak mengambil keuntungan dengan cara zalim sedang membangun perekonomian yang berkeadilan. Semua itu merupakan bentuk kontribusi nyata bagi kemakmuran bumi.

Dalam kehidupan sehari-hari, memakmurkan bumi bahkan dapat dimulai dari tindakan sederhana. Kita menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi pemborosan air, menanam dan merawat pohon, serta menggunakan listrik dan sumber daya seperlunya. Ketika melihat selokan tersumbat, kita tidak sekadar mengeluh, tetapi ikut membersihkannya atau melaporkannya kepada pihak yang bertanggung jawab. Ketika lingkungan menghadapi persoalan sampah, kita dapat membiasakan pemilahan sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, dan mengajak warga membangun kebiasaan hidup bersih. Perbuatan sederhana yang dilakukan bersama-sama dapat menghasilkan perubahan yang besar.

Memakmurkan bumi juga berarti membangun kehidupan sosial yang sehat. Ketika melihat anak yang kesulitan belajar, kita dapat membantunya memahami pelajaran. Ketika mengetahui tetangga mengalami kesulitan ekonomi, kita dapat membantu sesuai kemampuan atau menghubungkannya dengan sumber pertolongan. Ketika menemukan ketidakadilan, kita berusaha menyampaikan kebenaran melalui cara yang bertanggung jawab. Ketika dipercaya mengelola lembaga, kita memperbaiki pelayanan, menggunakan anggaran secara transparan, dan memastikan bahwa program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, memakmurkan bumi bukan hanya urusan lingkungan fisik, melainkan juga membangun manusia, memperkuat lembaga, dan menegakkan keadilan.

Sebaliknya, kita perlu menyadari bahwa tindakan yang merusak lingkungan, menipu dalam perdagangan, menyalahgunakan jabatan, menyebarkan fitnah, dan mengabaikan hak orang lain bertentangan dengan semangat memakmurkan bumi. Allah berfirman“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik.” (QS. al-A‘raf  56). Karena itu, seorang khalifah bukanlah pemilik bumi yang bebas mengeksploitasinya sesuka hati, melainkan pemegang amanah yang harus mengelolanya dengan adil, bijaksana, dan bertanggung jawab.

Saudaraku, semakin luas amanah yang kita emban, semakin besar pula kesempatan kita untuk memakmurkan bumi. Orang tua memakmurkan kehidupan melalui pendidikan keluarga; guru melalui ilmu dan keteladanan; pengusaha melalui usaha yang halal dan penciptaan lapangan kerja; pejabat melalui kebijakan yang adil; ilmuwan melalui pengetahuan yang bermanfaat; dan setiap warga melalui perilaku yang menjaga kebaikan bersama. Kita tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk mulai memakmurkan bumi, sebab setiap orang memiliki ruang pengabdian sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.

Maka, idealnya kita menyatukan dua amanah kehidupan: menjadi hamba Allah yang taat sekaligus khalifah yang bertanggung jawab. Shalat kita hendaknya menguatkan kejujuran, amal shalih kita melahirkan kemanfaatan, kekayaan kita membuka jalan pertolongan, jabatan kita menghadirkan keadilan, dan keberadaan kita membawa kebaikan bagi lingkungan. Keshalihan kepada Allah semestinya berbuah kemaslahatan bagi kehidupan. Itulah kebahagiaan memakmurkan bumi: ketika kita tidak sekadar hidup di dunia, tetapi ikut menjadikan dunia tempat yang lebih baik untuk dihuni. Semoga


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama