Bahagia Memperoleh Keberkahan di Bumi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.148
Jumat, Ayyamul Bidh Ke-1, 13 Jumadil Awal 1448 H

Bahagia Memperoleh Keberkahan di Bumi
Saudaraku, di tengah kita menjalani puasa Ayyamul Bidh pada hari-hari putih di pertengahan bulan Hijriah, kita kembali merenungkan makna keberkahan hidup di bumi. Setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita diajak memahami kebahagiaan memperoleh anugerah dari langit, hari ini kita diajak menyadari bahwa anugerah tersebut semestinya menumbuhkan keberkahan dalam kehidupan kita di bumi. Sebab, karunia Allah bukan sekadar untuk dinikmati, melainkan juga untuk disyukuri, dijaga, dikembangkan, dan dibagikan manfaatnya kepada sesama.

Puasa Ayyamul Bidh yang dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah menjadi salah satu kesempatan untuk melatih diri agar lebih peka terhadap keberkahan. Di tengah kesibukan menjalani kehidupan, puasa mengajak kita berhenti sejenak dari rutinitas makan dan minum pada siang hari, menata kembali hubungan dengan Allah, serta mengendalikan keinginan yang sering kali membuat kita lalai. Kita belajar bahwa kebahagiaan bukan semata-mata terletak pada banyaknya sesuatu yang kita miliki, melainkan pada kemampuan mensyukuri karunia Allah dan menggunakannya untuk kebaikan.

Keberkahan adalah ketika karunia Allah menghadirkan kebaikan yang melampaui jumlah dan ukuran yang tampak. Harta yang banyak belum tentu berkah jika menjauhkan pemiliknya dari Allah dan membuatnya lupa kepada sesama. Sebaliknya, harta yang sederhana dapat menjadi sumber kebahagiaan ketika diperoleh secara halal, mencukupi kebutuhan keluarga, membantu orang yang membutuhkan, dan mengantarkan pemiliknya semakin bersyukur. Demikian pula ilmu, jabatan, kesehatan, waktu, dan keluarga; semuanya menjadi berkah ketika menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.

Allah  berfirman dalam Al-Qur’an “Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A‘raf 96). Ayat ini mengingatkan kita thgbahwa iman dan takwa memiliki hubungan erat dengan keberkahan kehidupan. Keberkahan dari langit dapat berupa hujan yang menyuburkan tanaman, sedangkan keberkahan dari bumi dapat berupa hasil pertanian, sumber daya alam, dan berbagai kemanfaatan yang menopang kehidupan manusia. Namun, keberkahan tidak hanya menyangkut kelimpahan materi. Ketenteraman hati, keluarga yang saling menyayangi, masyarakat yang saling menolong, serta kehidupan yang dipenuhi kejujuran dan keadilan juga merupakan wujud kebaikan yang patut disyukuri.

Keberkahan di bumi menuntut kita merawat bumi sebagai amanah, bukan memperlakukannya semata-mata sebagai objek untuk dieksploitasi. Air yang bersih, tanah yang subur, udara yang sehat, pepohonan yang rindang, dan lingkungan yang lestari merupakan karunia yang manfaatnya dirasakan oleh banyak makhluk. Karena itu, memperoleh keberkahan bumi semestinya berjalan seiring dengan kesediaan menjaga kelestariannya. Kita tidak mungkin berharap hidup berkah apabila sumber air dicemari, hutan dirusak, sampah dibuang sembarangan, dan sumber daya alam dihabiskan tanpa memikirkan generasi mendatang.

Allah  berfirman: Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘raf 56). Ayat ini menegaskan bahwa memelihara kehidupan dan mencegah kerusakan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Menjaga kebersihan rumah, membersihkan saluran air, menanam pohon, menghemat air, mengelola sampah, serta menggunakan sumber daya secara bijaksana bukanlah perbuatan sepele. Jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang baik, tindakan sederhana itu menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan di bumi.

Puasa mengajarkan bahwa keberkahan tidak diperoleh dengan menuruti semua keinginan, tetapi dengan mengendalikan diri dan menempatkan sesuatu secara proporsional. Ketika berpuasa, kita sebenarnya mampu makan dan minum, tetapi kita menahan diri karena taat kepada Allah. Latihan ini mengajarkan bahwa tidak semua yang mampu kita lakukan harus kita lakukan, tidak semua yang mampu kita beli harus kita miliki, dan tidak semua yang tersedia harus kita habiskan. Ada hak orang lain yang perlu kita perhatikan, ada alam yang perlu kita rawat, dan ada masa depan yang perlu kita persiapkan.

Dalam konteks ini, puasa Ayyamul Bidh bukan hanya ibadah yang berkaitan dengan menahan lapar dan dahaga, melainkan juga kesempatan untuk memperhalus kepekaan sosial. Ketika merasakan lapar, kita diingatkan kepada saudara-saudara yang kekurangan makanan. Ketika menahan keinginan, kita belajar membedakan kebutuhan dan keserakahan. Ketika menunggu waktu berbuka, kita belajar tentang kesabaran. Dan ketika menikmati hidangan berbuka, kita sepatutnya menyadari bahwa makanan yang tersedia merupakan karunia Allah yang melibatkan banyak tangan: petani yang menanam, pekerja yang mengolah, pedagang yang menyediakan, serta keluarga yang menyiapkan.

Rasulullah saw. mengajarkan pentingnya rasa cukup dalam kehidupan. Beliau bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).

Hadis ini mengajarkan bahwa keberuntungan tidak selalu berarti memiliki kekayaan yang melimpah, melainkan juga memiliki hati yang merasa cukup dan mampu mensyukuri karunia Allah. Qanaah bukan berarti berhenti bekerja atau menyerah pada keadaan. Qanaah adalah sikap batin yang membuat kita tetap giat berikhtiar tanpa diperbudak oleh ketamakan, tetap berusaha meningkatkan kesejahteraan tanpa menghalalkan segala cara, serta tetap bahagia tanpa harus membandingkan kehidupan kita dengan kepunyaan orang lain.

Keberkahan semakin terasa ketika karunia yang kita terima mampu menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Ilmu menjadi berkah ketika diamalkan dan diajarkan. Harta menjadi berkah ketika digunakan untuk memenuhi kebutuhan secara halal, menafkahi keluarga, bersedekah, dan membantu mereka yang membutuhkan. Jabatan menjadi berkah ketika melahirkan pelayanan yang adil. Kesehatan menjadi berkah ketika digunakan untuk beribadah dan bekerja dengan baik. Bahkan waktu luang menjadi berkah ketika diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, bukan sekadar dihabiskan tanpa arah.

Sebagai pendidik, misalnya, kita memperoleh keberkahan ilmu ketika kehadiran kita membantu peserta didik bertumbuh menjadi manusia yang beriman, berpengetahuan, berakhlak, dan bermanfaat. Sebagai pemimpin, keberkahan jabatan hadir ketika kewenangan digunakan untuk melayani, bukan untuk mengistimewakan diri. Sebagai orang tua, keberkahan keluarga tumbuh ketika rumah menjadi tempat berteduh, belajar, saling menghormati, dan menumbuhkan kasih sayang. Sebagai anggota masyarakat, keberkahan kehidupan terasa ketika kita tidak hanya memikirkan kenyamanan sendiri, tetapi turut menjaga ketenteraman dan kesejahteraan bersama.

Saudaraku, keberkahan tidak selalu hadir dalam bentuk bertambahnya kepemilikan. Adakalanya keberkahan hadir sebagai hati yang tenteram meskipun hidup sederhana, keluarga yang rukun meskipun tidak berlimpah harta, tubuh yang sehat untuk beribadah, sahabat yang tulus, ilmu yang bermanfaat, atau kesempatan berbuat baik yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya. Karena itu, jangan hanya menghitung apa yang belum kita miliki, tetapi belajarlah mengenali kebaikan yang telah Allah hadirkan dalam kehidupan kita.

Semoga hari-hari putih ini membersihkan hati kita dari keserakahan, menumbuhkan rasa syukur, menguatkan ketakwaan, dan membimbing kita untuk menggunakan karunia Allah secara bertanggung jawab. Semoga keberkahan yang kita peroleh di bumi tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir kepada keluarga, masyarakat, sesama makhluk, dan generasi yang akan datang.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama