Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.145
Selasa, 10 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Bersama
Saudaraku, setelah kita merenungi kebahagiaan hidup di atas bumi, hari ini kita diajak menyadari bahwa kebahagiaan diperoleh ketika kita mampu merajut hubungan baik dengan Allah dan mampu menikmati karunia-Nya dengan syukur, serta kebersediaan merajut hubungan baik dengan sesama hamba-Nya.
Dalam konteks hablumminannas, kita memang menjalani kehidupan dengan pengalaman, pilihan, dan tanggung jawab masing-masing, tetapi tidak seorang pun sungguh-sungguh hidup sendirian. Sejak lahir, kita membutuhkan kasih sayang orang tua, pertolongan keluarga, bimbingan guru, persahabatan, kerja sama, dan kepedulian banyak orang. Bahkan, berbagai hal sederhana yang kita nikmati setiap hari merupakan hasil kebaikan orang-orang yang mungkin tidak pernah kita kenal. Karena itu, kebahagiaan hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil kita raih untuk diri sendiri, melainkan juga tentang bagaimana kita hadir dalam kehidupan orang lain. Hidup terasa lebih bermakna ketika kita tidak sekadar ingin dibahagiakan, tetapi juga bersedia membahagiakan; tidak hanya ingin dipahami, tetapi juga berusaha memahami; dan tidak sekadar menuntut kebaikan, tetapi turut menebarkannya.
Sesama manusia bukan pesaing yang harus selalu kita kalahkan, melainkan sesama hamba Allah yang perlu kita hormati dan perlakukan dengan baik. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat 13).
Ayat ini mengingatkan bahwa keberagaman manusia bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan membangun kehidupan bersama. Kita berbeda dalam suku, bahasa, budaya, kemampuan, pekerjaan, kedudukan, dan pengalaman hidup. Ada yang menjadi pemimpin, ada yang dipimpin; ada yang memiliki banyak harta, ada yang hidup sederhana; ada yang berpendidikan tinggi, ada yang memperoleh pengetahuan melalui pengalaman panjang. Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi tembok yang memisahkan martabat kemanusiaan. Jabatan dapat berakhir, kekayaan dapat berkurang, kecantikan dan ketampanan dapat berubah, serta kekuatan fisik dapat melemah. Karena itu, jangan menjadikan kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan dan jangan pula menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk mengucilkan. Kemuliaan sejati berada dalam ketakwaan yang tercermin melalui ketaatan kepada Allah dan kebaikan akhlak kepada sesama.
Saudaraku, kebahagiaan bersama sesama dimulai dari kesediaan menerima orang lain sebagai manusia yang memiliki martabat, perasaan, harapan, dan pergulatannya sendiri. Kita sering berharap orang lain memahami keadaan kita, tetapi terkadang lupa berusaha memahami keadaan mereka. Kita ingin dihargai ketika berbicara, tetapi belum tentu bersedia mendengarkan. Kita berharap dimaafkan ketika melakukan kesalahan, tetapi kadang-kadang sulit memaafkan kesalahan orang lain. Kita ingin diperlakukan dengan lembut, tetapi tanpa sadar menggunakan kata-kata yang melukai. Padahal, hubungan yang baik tidak dibangun hanya dengan menuntut orang lain menjadi baik kepada kita, melainkan juga dengan kesediaan memperbaiki sikap kita sendiri. Sebelum bertanya mengapa orang lain tidak memahami kita, ada baiknya kita bertanya apakah kita telah berusaha memahami mereka. Sebelum menuntut penghargaan, kita perlu belajar menghargai. Sebelum mengharapkan pertolongan, kita perlu membiasakan diri menolong sesuai kemampuan.
Dalam kehidupan keluarga, kebahagiaan bersama sesama hamba Allah dapat dimulai dari rumah. Suami dan istri yang bersedia mendengarkan, berbicara dengan santun, saling menghargai, serta mengakui kesalahan sedang merawat kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan harta. Orang tua yang memberi perhatian kepada anak-anaknya bukan hanya melalui pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga melalui waktu, teladan, dan kasih sayang, sedang membangun kedekatan yang berharga. Anak-anak yang menghormati orang tua, saudara yang saling mendukung, dan anggota keluarga yang tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan turut menghadirkan ketenteraman. Tentu, setiap keluarga memiliki persoalan dan tidak selalu sepakat dalam segala hal. Namun, perbedaan dapat dibicarakan tanpa penghinaan, kesalahan dapat diperbaiki tanpa mempermalukan, dan persoalan dapat diselesaikan tanpa menghilangkan kasih sayang.
Di lingkungan kerja dan pendidikan, kebahagiaan bersama sesama dapat tumbuh melalui sikap saling menghormati dan bekerja sama. Seorang dosen yang menghargai pertanyaan mahasiswa, seorang guru yang tidak mempermalukan peserta didik, seorang pemimpin yang bersedia menerima kritik, dan seorang bawahan yang menjalankan tanggung jawab dengan jujur sedang membangun lingkungan yang sehat. Rekan kerja yang bersedia berbagi pengetahuan, mengakui kontribusi orang lain, dan tidak mengambil hasil kerja orang lain sebagai jasanya sendiri membantu menumbuhkan kepercayaan. Ketika terjadi perbedaan pendapat, kita dapat menguji gagasan tanpa merendahkan orang yang menyampaikannya. Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita dapat membimbingnya agar memperbaiki diri, bukan menjadikan kesalahannya sebagai bahan untuk menjatuhkan martabatnya. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari kemampuan kita membuat orang lain tumbuh dan berkembang.
Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat, kebahagiaan bersama lahir dari kepedulian yang nyata. Kita dapat menyapa tetangga, mengunjungi orang yang sakit, membantu warga yang sedang mengalami kesulitan, berbagi makanan, mendukung anak-anak yang membutuhkan kesempatan belajar, atau bergotong royong membersihkan lingkungan. Kita tidak harus menunggu menjadi kaya untuk berbagi, menjadi pejabat untuk melayani, atau memiliki banyak waktu luang untuk menunjukkan kepedulian. Terkadang, mendengarkan seseorang yang sedang menghadapi masalah, mengantarkan tetangga ke tempat yang dibutuhkan, atau memberikan informasi yang bermanfaat sudah menjadi pertolongan yang berarti. Kebaikan tidak selalu diukur dari besarnya biaya yang dikeluarkan, tetapi dari ketulusan, ketepatan, dan manfaatnya bagi orang yang menerima.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajak kita memperluas ukuran kebaikan. Jika kita ingin dihormati, hormatilah orang lain. Jika kita ingin memperoleh kesempatan, bantulah orang lain memperoleh kesempatan yang adil. Jika kita tidak suka difitnah, jangan memfitnah. Jika kita ingin urusan kita dipermudah, jangan sengaja mempersulit urusan orang lain. Jika kita berharap anak-anak kita memperoleh pendidikan yang baik, dukunglah ikhtiar menciptakan pendidikan yang baik bagi anak-anak lain. Mencintai kebaikan bagi sesama bukan berarti kita harus menyetujui semua tindakan mereka atau mengorbankan seluruh kebutuhan diri sendiri. Kita tetap perlu menjaga batas, menegakkan kebenaran, dan menolak kezaliman. Namun, ketika perbedaan dan kepentingan muncul, kita berusaha mencari jalan yang adil dan bermanfaat, bukan sekadar jalan yang menguntungkan diri sendiri.
Saudaraku, kebahagiaan bersama sesama juga menuntut kita menjaga lisan dan sikap. Banyak hubungan yang rusak bukan karena persoalan yang terlalu besar, melainkan karena kata-kata yang tidak dijaga, prasangka yang dipelihara, kabar yang disebarkan tanpa diperiksa, atau keinginan untuk selalu merasa paling benar. Sebaliknya, banyak hubungan dapat pulih karena seseorang berani meminta maaf, bersedia mendengarkan, memberikan penjelasan dengan baik, atau memilih diam ketika ucapan hanya akan memperkeruh keadaan. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan dan tidak setiap kekecewaan perlu dibalas dengan keburukan. Kita boleh tidak sepakat, tetapi tetap menghormati; boleh mengoreksi, tetapi tidak menghina; boleh menjaga jarak dari perilaku yang merugikan, tetapi tidak harus memelihara kebencian. Kedewasaan hubungan terlihat ketika kita mampu menjaga prinsip tanpa kehilangan kemanusiaan.
Namun, saudaraku, perlu kita sadari bahwa bahagia bersama sesama bukan berarti selalu menyenangkan semua orang. Ada kalanya kebaikan menuntut kita mengatakan yang benar meskipun tidak disukai, menolak permintaan yang tidak patut, atau menegakkan aturan meskipun menimbulkan ketidaknyamanan. Seorang pemimpin yang adil mungkin harus mengambil keputusan yang tidak disukai sebagian pihak, tetapi tetap mempertimbangkan kepentingan bersama. Orang tua terkadang harus berkata tegas demi kebaikan anak. Guru perlu menegakkan disiplin tanpa merendahkan peserta didik. Karena itu, kebahagiaan bersama tidak dibangun melalui sikap selalu mengalah atau mencari pujian, melainkan melalui kasih sayang yang berpadu dengan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Kita berusaha membuat orang lain merasa dihargai, tanpa mengorbankan kebenaran dan amanah yang harus dijaga.
Pada akhirnya, saudaraku, kehidupan di bumi akan terasa lebih indah ketika kita menyadari bahwa kita semua sedang menempuh perjalanan yang sama-sama terbatas. Setiap orang membawa ujian yang tidak seluruhnya kita ketahui, menyimpan harapan yang belum tentu mereka ceritakan, dan membutuhkan kebaikan yang kadang-kadang tidak mampu mereka minta. Kesadaran ini semestinya membuat kita lebih berhati-hati dalam menilai, lebih lembut dalam berbicara, lebih tulus dalam membantu, dan lebih mudah bersyukur atas kehadiran orang-orang baik di sekitar kita. Kita tidak harus menjadi orang yang paling hebat untuk memberikan arti bagi kehidupan. Cukuplah kita menjadi manusia yang keberadaannya menghadirkan rasa aman, perkataannya membawa ketenteraman, tindakannya memberikan manfaat, dan kepergiannya meninggalkan kenangan tentang kebaikan.
Sebab, kebahagiaan yang hanya dinikmati sendiri mudah berubah menjadi kesepian, sedangkan kebahagiaan yang dibagikan dapat tumbuh menjadi keberkahan bersama. Ketika kita membantu orang lain, sesungguhnya kita sedang merawat kemanusiaan dalam diri sendiri. Ketika kita memudahkan urusan sesama, kita ikut membangun kehidupan yang lebih lapang. Ketika kita menghormati perbedaan, kita membuka jalan bagi kedamaian. Dan ketika kita menebarkan kebaikan karena Allah, kita berharap bukan hanya memperoleh kebahagiaan selama hidup di bumi, melainkan juga rida-Nya dalam perjalanan menuju akhirat. Semoga