Bahagia Hidup di Bumi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.144
Senin, 9 Jumadil Awal 1448 H

Bahagia Hidup di Bumi
Saudaraku, setelah kita belajar menikmati keindahan dan menjelajahi bumi untuk menemukan beragam pelajaran kehidupan, hari ini kita diajak merenungkan sesuatu yang lebih mendasar, yakni bagaimana menjalani kehidupan di atas bumi dengan bahagia, bermakna, dan diridai Allah. Sebab, bumi bukan sekadar tempat untuk berpijak, bekerja, membangun keluarga, dan memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga ruang pengabdian tempat kita menanam amal untuk kehidupan yang abadi. Kita tidak memilih untuk dilahirkan di bumi, tetapi setelah dianugerahi kehidupan, kita bertanggung jawab mengisinya dengan sebaik-baiknya. Kita tidak dapat menentukan seluruh keadaan yang akan dijumpai, tetapi kita dapat terus belajar menentukan sikap dalam menghadapinya. Maka, kebahagiaan hidup di bumi bukan sekadar tentang memperoleh segala yang diinginkan, melainkan tentang kemampuan menjalani kehidupan dengan iman, syukur, ikhtiar, kasih sayang, dan kesadaran bahwa setiap langkah berada dalam pengetahuan Allah.

Bahagia hidup di bumi merupakan idealitas yang patut kita ikhtiarkan, bukan hanya angan-angan yang cukup kita ucapkan. Kita menginginkan kehidupan yang tenteram, keluarga yang harmonis, rezeki yang halal dan berkah, ilmu yang bermanfaat, tubuh yang dapat digunakan untuk beribadah, lingkungan yang aman, serta hubungan sosial yang dilandasi kasih sayang dan keadilan. Kita juga berharap dapat menjalani kehidupan dengan hati yang lapang, tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan, dan tidak kehilangan rasa syukur ketika memperoleh kemudahan. Namun, kebahagiaan yang demikian tidak selalu berarti hidup tanpa masalah. Ada kalanya kita bahagia ketika berhasil mencapai sesuatu, tetapi ada pula saat kita menemukan ketenteraman justru ketika belajar menerima sesuatu yang belum dapat diubah. Ada kebahagiaan ketika memperoleh rezeki, tetapi ada pula kebahagiaan ketika mampu bersabar dalam keterbatasan. Kebahagiaan sejati bukanlah keadaan ketika seluruh keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati tetap terarah kepada Allah dalam berbagai keadaan kehidupan.

Allah Swt. mengajarkan doa yang merangkum cita-cita kehidupan seorang muslim, yakni memohon kebaikan di dunia dan di akhirat sekaligus perlindungan dari azab neraka. Allah berfirman:“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Al-Baqarah 201). Doa ini mengajarkan keseimbangan yang sangat mendasar. Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia demi akhirat, sebagaimana tidak membenarkan kita mengorbankan akhirat demi kesenangan dunia. Kebaikan dunia perlu diusahakan, tetapi tidak dengan menghalalkan segala cara. Kebaikan akhirat perlu dipersiapkan, tetapi tidak dengan mengabaikan amanah kehidupan yang sedang dijalani. Kita bekerja untuk memperoleh rezeki, mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik, menuntut ilmu untuk meningkatkan kualitas diri, menjaga kesehatan agar mampu beribadah, dan membangun kehidupan sosial yang damai. Semua itu dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridai Allah. Dengan demikian, dunia bukan lawan dari akhirat, melainkan ladang tempat kita menanam bekal untuk kehidupan akhirat.

Saudaraku, kebahagiaan hidup di bumi juga tumbuh ketika kita mampu mendamaikan harapan dengan kenyataan. Tidak semua yang kita rencanakan akan terlaksana, tidak semua yang kita cintai akan selalu bersama kita, dan tidak semua perjuangan segera membuahkan hasil sesuai keinginan. Ada orang yang telah bekerja keras, tetapi rezekinya masih terbatas; ada orang tua yang telah mendidik anak dengan penuh kasih sayang, tetapi tetap menghadapi ujian dalam pengasuhannya; ada pula orang yang menjaga kesehatan, tetapi masih harus menjalani sakit. Dalam keadaan demikian, bukan berarti ikhtiar tidak berguna atau kebahagiaan telah tertutup. Justru di situlah kita belajar bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Kita tetap berusaha memperbaiki keadaan, tetapi tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Kita berdoa, berikhtiar, mengevaluasi diri, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh kepercayaan. Hati yang demikian tidak mudah hancur ketika harapan tertunda dan tidak lekas sombong ketika cita-cita tercapai.

Allah Swt. berfirman:

﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً﴾

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 97, bagian ayat).

Ayat ini memberikan harapan bahwa iman dan amal saleh menjadi jalan menuju ḥayātan ṭayyibah, yakni kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik tidak harus diukur dari kemewahan rumah, tingginya jabatan, banyaknya harta, atau besarnya pengakuan masyarakat. Seseorang yang hidup sederhana, tetapi rezekinya halal, keluarganya saling menyayangi, hatinya bersyukur, dan tangannya bermanfaat bagi sesama, dapat merasakan kekayaan batin yang tidak selalu dimiliki orang yang berlimpah harta. Sebaliknya, kelimpahan materi tidak dengan sendirinya menghadirkan ketenteraman apabila hati dipenuhi keserakahan, kecemasan, dan keinginan untuk terus mengungguli orang lain. Tentu, kemiskinan dan kesulitan bukan sesuatu yang harus diromantisasi; kita tetap berkewajiban mengatasi ketidakadilan dan memperbaiki keadaan. Namun, apa pun kondisi yang sedang dihadapi, iman dan amal saleh memberi arah agar kehidupan tidak kehilangan makna.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebahagiaan itu dapat diwujudkan melalui hal-hal yang sederhana tetapi mendasar. Seorang ayah yang bekerja secara jujur, membawa pulang rezeki halal, dan menyediakan waktu untuk mendengarkan anak-anaknya sedang membangun kebahagiaan keluarga. Seorang ibu yang mendidik dengan kasih sayang sekaligus ketegasan sedang menanamkan kebaikan bagi masa depan. Seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh dan memperlakukan peserta didik secara adil sedang menghadirkan kebahagiaan melalui ilmu. Seorang pemimpin yang mendengar keluhan masyarakat dan menggunakan kewenangannya secara amanah sedang membuka jalan bagi kehidupan bersama yang lebih baik. Seorang tetangga yang ringan membantu, seseorang yang bersedia meminta maaf, atau siapa pun yang memilih berkata benar meskipun tidak menguntungkan dirinya, turut menghadirkan kebaikan di bumi. Kebahagiaan hidup bukan hanya sesuatu yang kita terima, tetapi juga sesuatu yang kita bangun dan kita bagikan.

Lebih dari itu, kebahagiaan di bumi semestinya tidak berhenti pada kepentingan pribadi. Kita tentu ingin hidup tenteram, tetapi ketenteraman itu menjadi lebih bermakna apabila turut dirasakan keluarga dan masyarakat. Kita ingin memperoleh rezeki yang berkah, tetapi keberkahan itu semakin terasa ketika sebagian rezeki dapat membantu orang yang membutuhkan. Kita ingin memiliki ilmu, tetapi ilmu itu semakin bernilai ketika digunakan untuk mencerdaskan dan membebaskan manusia dari ketidaktahuan. Kita ingin menikmati bumi yang indah, tetapi keindahan itu harus dijaga agar tidak rusak oleh keserakahan. Karena itu, kebahagiaan pribadi dan kemaslahatan bersama tidak seharusnya dipertentangkan. Semakin baik kehidupan seseorang, semestinya semakin besar pula peluangnya untuk menebarkan kebaikan bagi orang lain.

Saudaraku, apabila kebahagiaan hidup di bumi dapat kita ikhtiarkan melalui iman, amal saleh, syukur, kesabaran, keadilan, dan kepedulian, maka kebahagiaan akhirat tentu jauh lebih agung. Allah menyediakan kenikmatan akhirat yang melampaui keterbatasan kehidupan dunia. Namun, kita tidak boleh merasa cukup hanya dengan menginginkan surga; kita perlu menyiapkan diri dengan iman, amal saleh, taubat, dan rahmat Allah. Kita juga tidak boleh merasa telah aman dari neraka hanya karena menganggap diri telah banyak berbuat baik. Kita tetap membutuhkan ampunan dan pertolongan-Nya, sebab manusia memiliki keterbatasan dan tidak ada yang patut menyombongkan amal di hadapan Allah. Maka, doa memohon kebaikan dunia, kebaikan akhirat, dan perlindungan dari neraka hendaknya menjadi arah sekaligus pengingat bagi perjalanan hidup kita.

Inilah keseimbangan yang perlu terus dijaga: kaki tetap menapak di bumi, tetapi hati tidak diperbudak oleh dunia; tangan tetap bekerja untuk memperbaiki kehidupan, tetapi jiwa tidak melupakan akhirat; kita menikmati karunia Allah, tetapi tidak lalai dari tanggung jawab; kita bercita-cita tinggi, tetapi tetap rendah hati; dan kita bersungguh-sungguh beramal, tetapi tidak merasa paling berjasa. Bahagia hidup di bumi bukan berarti telah sampai pada akhir perjalanan, melainkan menjalani perjalanan dunia dengan cara yang mengantarkan kepada kebaikan akhirat. Dunia menjadi tempat kita beramal, sedangkan akhirat menjadi tempat kita menerima balasan. Karena itu, setiap hari yang masih dianugerahkan kepada kita merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri, menyelesaikan tanggung jawab, menyambung silaturahmi, menebar manfaat, dan memohon ampunan atas kekurangan yang telah lalu.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama