Bahagia Menikmati Proses Kehidupan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.112
Jumat, 7 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Menikmati Proses Kehidupan

Saudaraku, suatu ketika Nabi berjalan bersama para sahabat, lalu mereka melewati sebuah jenazah. Para sahabat memberikan penilaian terhadap orang yang meninggal itu. Ketika mereka menyebutnya sebagai orang yang baik, Nabi  mengiyakan; ketika menyebut yang lain dengan penilaian berbeda, Nabi ï·º juga mengingatkan bahwa manusia adalah saksi-saksi Allah di bumi. Kisah ini mengajarkan bahwa kehidupan seseorang tidak cukup dinilai hanya dari satu potongan peristiwa. Ada perjalanan panjang yang membentuk dirinya, ada amal yang dilakukan sepanjang hidup, dan ada akhir yang menjadi penentu. Demikian pula kehidupan kita: jangan hanya mengejar hasil akhirnya, tetapi belajarlah menghargai setiap proses yang sedang Allah jalankan.

Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia berilmu bisa bersyukur dengan apa yang Allah berikan dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak melangkah lebih dalam, yaitu bahagia bersyukur menikmati proses kehidupan. Ya, karena kehidupan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita berjalan menuju tujuan itu. Ada proses belajar, bekerja, berjuang, menunggu, jatuh, bangkit, dibenci dicintai, dikritik dipuji, proses mencoba lagi dan terus memperbaiki diri. Semuanya merupakan bagian dari perjalanan yang tidak boleh kita sia-siakan.

Sering kali kita baru ingin bahagia setelah mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita berkata, “Nanti kalau sudah berhasil, saya akan bahagia. Nanti kalau sudah memiliki rumah, saya akan tenang. Nanti kalau jabatan sudah tercapai, saya akan puas. Nanti kalau semua persoalan selesai, saya akan bersyukur.” Akhirnya, kebahagiaan selalu diletakkan di masa depan nanti dan nanti, sementara hari ini yang sedang kita jalani berlalu begitu saja. Padahal boleh jadi, kebahagiaan bukan hanya berada di tempat tujuan, tetapi juga tumbuh di sepanjang perjalanan menuju ke sana. Seorang anak bahagia ketika belajar meskipun belum menjadi orang berilmu. Seorang petani menikmati proses menanam meskipun belum memanen. Seorang pendidik bersyukur ketika melihat muridnya berkembang meskipun hasil akhirnya belum sempurna. Seorang ayah dan ibu menikmati pertumbuhan anak-anaknya meskipun perjalanan mendidik mereka penuh tantangan. 

Allah berfirman Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. ?QS. al-Balad [90]: 4). Ayat ini mengingatkan bahwa perjuangan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tidak semua proses berjalan mudah. Ada keringat yang menyertai keberhasilan, ada air mata yang mengiringi kedewasaan, ada kegagalan yang mengajarkan kehati-hatian, dan ada penantian yang mendidik kesabaran. Karena itu, seyogyanya tidak menganggap setiap kesulitan dalam perjalanan sebagai tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Bisa jadi justru melalui proses itulah Allah sedang membentuk kita.

Orang yang berilmu memahami bahwa hasil adalah buah, sedangkan proses adalah tempat tumbuhkembangnya manusia. Hasil memang penting, tetapi proses menentukan kualitas diri. Dalam proses itulah kesabaran dilatih, kejujuran diuji, disiplin dibangun, keikhlasan ditempa, dan tawakal dipelajari. Karena itu, kegagalan dalam mencapai sesuatu tidak selalu berarti seluruh perjalanan gagal. Bisa jadi kita belum mendapatkan hasil yang diinginkan, tetapi telah mendapatkan ilmu, pengalaman, kedewasaan, dan kekuatan yang jauh lebih berharga.

Allah berfirman: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan.” (QS. an-Najm 39-40).  Perhatikan, Saudaraku, Allah tidak hanya berbicara tentang hasil, tetapi juga tentang usaha. Ada nilai dalam perjalanan. Ada nilai dalam kesungguhan. Ada nilai dalam setiap langkah yang dilakukan dengan niat yang benar.

Maka sebaiknya tidak kita meremehkan langkah kecil atau merasa hidup kita tidak berarti hanya karena belum sampai pada apa yang dicapai orang lain. Setiap orang mempunyai waktu dan perjalanan masing-masing. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang jalannya lurus, ada yang harus berbelok. Ada yang mendapatkan kesempatan sejak awal, ada yang baru mendapatkannya setelah melewati perjalanan panjang. Dan yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi apakah setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada Allah dan semakin baik sebagai manusia.

Dalam perjalanan kehidupan, ada saat kita naik dan ada saat kita turun. Ada hari yang penuh semangat dan ada hari yang terasa berat. Ada doa yang segera terjawab dan ada doa yang harus menunggu. Ada usaha yang berhasil dan ada usaha yang belum membuahkan hasil. Semua itu tidak harus membuat kita kehilangan kebahagiaan. Selama kita masih berjalan di jalan yang benar, setiap keadaan dapat menjadi ruang untuk belajar dan bersyukur. Karena itu, bersyukur menikmati proses bukan berarti menikmati kesulitan tanpa berusaha mengubahnya. Bersyukur bukan berarti menerima kegagalan lalu berhenti. Bersyukur justru membuat kita mampu berkata, “Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk berusaha.” Ketika jatuh, kita bangkit. Ketika gagal, kita belajar. Ketika terlambat, kita memperbaiki langkah. Ketika berhasil, kita bersyukur dan tidak lupa diri.

Bukankah kehidupan ini sendiri adalah proses? Kita dahulu tidak ada, kemudian lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, lalu semakin tua. Tidak satu pun tahapan itu dapat dilompati. Kita tidak dapat memaksa pagi menjadi siang sebelum waktunya. Tidak dapat memetik buah sebelum ia matang. Tidak dapat memanen sebelum menanam dan merawat. Allah mendidik kita melalui proses. Maka jangan terburu-buru ingin memetik buah sebelum selesai menjalani musimnya.

Saudaraku, mungkin hari ini kita belum menjadi seperti yang kita cita-citakan. Jangan karena itu kita lupa bersyukur. Mungkin pekerjaan kita belum sempurna, keluarga kita belum seperti yang kita harapkan, ilmu kita belum sebanyak yang kita inginkan, atau cita-cita kita masih jauh. Tetaplah bersyukur. Sebab selama masih ada waktu, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Nikmat terbesar dalam proses kehidupan adalah masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dalam keadaan Islam, iman dan sehat wal afiat. Hari ini mungkin belum sempurna, tetapi masih bisa diperbaiki. Kesalahan kemarin mungkin tidak dapat dihapus dari sejarah, tetapi taubat dan amal baik hari ini dapat mengubah arah masa depan. Maka, jangan hanya bertanya, “Kapan saya sampai?” Sesekali bertanyalah, “Apa yang telah saya pelajari sepanjang perjalanan?” Jangan hanya menghitung berapa banyak yang belum tercapai. Hitung pula berapa banyak pengalaman yang telah mendewasakan, berapa banyak kesalahan yang telah menyadarkan, berapa banyak kebaikan yang telah Allah mudahkan, dan berapa banyak nikmat yang telah menyertai perjalanan kita. Bahagia itu bukan hanya ketika sampai pada tujuan, tetapi ketika sepanjang perjalanan kita tetap mampu bersyukur, belajar, berbuat baik, dan menikmati kebersamaan dengan Allah. Semoga bahagia selalu.



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama