Bahagia Berilmu Lalu Hati-hati saat Berbicara

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.067
Senin, 19 Safar 1448

Bahagia Berilmu Lalu Hati-Hati saat Berbicara
Saudaraku, suatu hari, seorang tabi'in melihat Abdullah bin Mas'ud r.a., sahabat Rasulullah yang terkenal sebagai ahli Al-Qur'an dan fakih, sedang memegang lidahnya sendiri seraya berkata, «"Wahai lidahku, katakanlah yang baik, niscaya engkau akan beruntung. Diamlah dari perkataan yang buruk, niscaya engkau akan selamat, sebelum engkau menyesal."»

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebagian ulama salaf, ketika khawatir tergelincir lisannya, maka mereka menggigit lidahnya atau meletakkan kerikil kecil di mulutnya sebagai latihan agar tidak mudah berbicara sebelum dipikirkan dengan matang. Mereka sadar bahwa kesalahan lisan sering kali lebih sulit diperbaiki daripada kesalahan tangan. Anak panah yang telah dilepaskan mungkin masih dapat ditemukan, tetapi kata-kata yang telah keluar tidak mungkin ditarik kembali.

Muhasabah sebelumnya mengajarkan bahwa ilmu yang benar melahirkan ketenangan jiwa. Hari ini kita melihat buah berikutnya. Orang yang benar-benar berilmu akan semakin berhati-hati dalam berbicara. Semakin luas ilmunya, semakin ia menyadari betapa sedikit yang benar-benar diketahuinya. Karena itu ia tidak tergesa-gesa menjawab, tidak mudah berkomentar, dan tidak merasa harus berbicara dalam setiap kesempatan. Allah mengingatkan: «"Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS. Qaf: 18).

Rasulullah juga bersabda:, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. al-Bukhari dan Muslim).» Inilah adab ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi pula kehati-hatiannya dalam menjaga lisan.

Di era digital, menjaga lisan juga berarti menjaga "status". Apa yang kita tulis memiliki bobot moral yang sama dengan apa yang kita ucapkan. Orang yang berilmu tidak mudah berkomentar terhadap sesuatu yang belum dipahaminya secara utuh. Ia tidak tergesa-gesa membuat status hanya karena mengikuti emosi sesaat atau arus opini. Ia membiasakan diri melakukan tabayyun, menimbang manfaat dan mudarat, serta memikirkan akibat jangka panjang sebelum menekan tombol "kirim" atau "unggah".

Ilmu yang benar melahirkan kedewasaan dalam bermedia. Ia tidak mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, tidak mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan potongan informasi, dan tidak menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan kemarahan. Ia sadar bahwa setiap tulisan akan dibaca manusia dan dicatat oleh malaikat. Karena itu, ia memilih diam daripada menulis sesuatu yang dapat melukai kehormatan orang lain.

Lebih jauh lagi, orang yang berilmu akan menjauhkan dirinya dari ujaran kebencian, caci maki, fitnah, provokasi, perundungan (bullying), dan adu domba. Ia memahami bahwa kata-kata yang menebarkan kebencian bukan hanya merusak persaudaraan antarmanusia, tetapi juga mengeraskan hati pelakunya sendiri. Sebaliknya, ia menjadikan lisan dan tulisannya sebagai sarana menyebarkan ilmu, menebarkan kasih sayang, menguatkan ukhuwah, dan menghadirkan kedamaian.

Maka seyogyanya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah jejak digital kita akan menjadi saksi yang meringankan atau justru memberatkan kita di hadapan Allah? Semoga setiap ucapan, komentar, dan tulisan yang kita tinggalkan menjadi amal jariyah yang mengalirkan kebaikan, bukan dosa yang terus bertambah karena dibaca dan disebarkan oleh orang lain.Menurut saya, tambahan ini sangat kuat karena menghubungkan adab lisan yang diajarkan para sahabat dengan tantangan kontemporer: lisan digital (komentar, status, unggahan, dan media sosial). Dengan demikian, muhasabah ini menjadi lebih kontekstual tanpa kehilangan landasan Al-Qur'an dan Sunnah.

Ada ungkapan yang amat populis, tong yang kosong mengeluarkan bunyi paling nyaring, sedangkan bejana yang penuh air bergerak dengan tenang. Demikian pula manusia. Orang yang dangkal ilmunya sering merasa harus selalu berbicara, selalu berpendapat, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu justru lebih banyak mendengar, lebih banyak berpikir, dan hanya berbicara ketika ucapannya membawa manfaat.

Imam Malik pernah ditanya puluhan persoalan dalam satu majelis. Pada banyak pertanyaan beliau menjawab, "Aku tidak tahu." Murid-muridnya merasa heran. Namun beliau berkata, "Mengatakan 'aku tidak tahu' adalah setengah dari ilmu." Kalimat ini menunjukkan bahwa ilmu bukanlah keberanian menjawab semua pertanyaan, tetapi keberanian mengakui batas pengetahuan.

Jadi orang yang berilmu tidak mengukur kemuliaan dirinya dari banyaknya kata yang keluar, tetapi dari banyaknya kebenaran yang terjaga dalam setiap ucapannya.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama