Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.009
Sabtu, 20 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Hajar” yang Bersyukur pada Allah dan Menghargai Suami
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Hajar” yang tidak banyak menuntut, maka hari ini kita diajak menyelami keteladanan Hajar sebagai pribadi yang pandai bersyukur kepada Allah dan pandai menghargai pengorbanan suami.
Simaklah kisahnya yang menakjubkan. Di tengah kehidupan yang penuh ujian, Hajar tidak dikenal sebagai pribadi yang sibuk menyalahkan keadaan atau kemudian menyesali nasib. Hajar justru menjalani hidup dengan hati yang penuh keyakinan kepada Allah dan tetap setia menjaga penghormatan kepada Ibrahim sebagai suami yang sedang menjalankan perintah Allah.
Tentu, bersyukur itu sejatinya bukan hanya di lisan dengan mengucapkan “alhamdulillah”, tetapi bagaimana cara memandang kehidupan yang dijalani dengan hati jernih. Orang yang pandai bersyukur akan lebih mudah melihat karunia di balik semua keadaan termasuk dalam keterbatasan. Saat diuji bisa semakin punya banyak waktu untuk memohon bermunajat pada Allah. Ia tidak menunggu hidup sempurna untuk merasa tenang, tidak menunggu berlebihan baru bersyukur. Sebab ia sadar bahwa hidup memang selalu berjalan di antara nikmat dan ujian.
Bahagia menjadi “Hajar” yang pandai bersyukur berarti memahami bahwa kebahagiaan sering lahir dari hati yang mampu menghargai apa yang sudah dimiliki. Banyak manusia sebenarnya tidak kekurangan nikmat, tetapi kekurangan rasa syukur. Akibatnya, hidup terasa selalu kurang meskipun Allah telah memberi banyak karunia.
Hajar mengajarkan bahwa syukur dapat menjaga hati tetap kuat dalam menghadapi ujian. Ketika hidup terasa berat, rasa syukur membuat manusia tidak tenggelam dalam keputusasaan. Ia masih mampu melihat bahwa di tengah kesulitan, Allah tetap menghadirkan kasih sayang-Nya dalam berbagai bentuk.
Bersyukur kepada Allah juga membuat manusia lebih lembut kepada sesama, terutama kepada keluarga. Sebab orang yang dekat dengan syukur biasanya lebih mudah menghargai pengorbanan orang lain. Ia sadar bahwa kehidupan tidak dijalani sendirian. Ada banyak kebaikan manusia lain yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Keteladanan Hajar dalam menghormati suami memberikan pelajaran penting tentang keindahan hubungan yang dibangun di atas iman. Ketika Ibrahim meninggalkannya di lembah tandus Makkah, Hajar tidak langsung meluapkan kemarahan atau menyalahkan suaminya. Beliau justru bertanya dengan tenang: “Apakah ini perintah Allah?” Ketika Ibrahim menjawab “Ya,” maka Hajar berkata: “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Kalimat itu menunjukkan kedewasaan ruhani yang luar biasa seorang istri. Hajar memahami bahwa pengorbanan Ibrahim bukan karena tidak peduli kepada keluarganya, tetapi karena sedang menjalankan titah Allah. Dari sini kita belajar bahwa hubungan yang dibangun di atas iman dan takwa akan lebih kuat menghadapi ujian kehidupan.
Berterima kasih kepada pasangan adalah akhlak yang sering dianggap sederhana, tetapi sangat penting dalam menjaga kehangatan keluarga. Banyak hubungan menjadi dingin bukan karena kurangnya materi, tetapi karena hilangnya penghargaan terhadap pengorbanan satu sama lain. Padahal setiap manusia ingin dihargai atas usaha dan perjuangannya.
Di zaman sekarang, manusia sering lebih mudah melihat kekurangan pasangan daripada menghargai kebaikannya. Hal-hal yang kecil diperbesar, dan banyak hal yang baik dilupakan. Padahal rasa terima kasih adalah salah satu cara menjaga cinta tetap hidup. Kalimat sederhana yang penuh penghargaan kadang lebih menenangkan daripada hadiah yang mahal.
Menjadi “Hajar” yang pandai bersyukur juga berarti tidak membangun rumah tangga dengan budaya tuntutan yang berlebihan. Sebab ketika hubungan dipenuhi tuntutan tanpa penghargaan, maka cinta perlahan berubah menjadi beban. Sebaliknya, ketika hubungan dipenuhi syukur dan penghormatan, maka kekurangan pun lebih mudah diterima dengan lapang hati.
Syukur kepada Allah dan penghargaan kepada pasangan sejatinya saling berkaitan. Orang yang pandai bersyukur kepada Allah biasanya lebih mudah menghargai manusia. Sebab ia sadar bahwa manusia-manusia di sekitarnya juga bagian dari nikmat Allah yang harus dijaga dan disyukuri.
Keteladanan Hajar mengajarkan bahwa perempuan yang kuat bukan hanya yang mampu bertahan dalam ujian, tetapi juga yang mampu menjaga keluasan hati di tengah kesulitan. Beliau tidak membiarkan ujian mengubah dirinya menjadi pribadi yang penuh keluhan. Beliau tetap menjaga adab, syukur, dan keyakinannya kepada Allah.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Hajar” yang pandai bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada suami adalah ketika hati mampu melihat kehidupan sebagai amanah yang harus dijalani dengan cinta, penghargaan, dan keimanan. Sebab rumah tangga yang dipenuhi syukur akan lebih mudah menghadirkan ketenangan. Dan ketika suami-istri saling menghargai karena Allah, maka rumah yang sederhana sekalipun dapat terasa lebih damai daripada istana yang kehilangan rasa syukur.