Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.008
Jumat, 19 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Hajar” yang Tidak Banyak Menuntut
Saudaralu setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang idealitas menjadi “Hajar” yang setia pada keluarga, maka hari ini kita diajak menyelami keteladanan Hajar sebagai sosok yang tidak banyak menuntut kepada kehidupan.
Di tengah keterbatasan yang Hajar jalani bersama Ismail di lembah tandus Makkah, beliau tidak sibuk mempertanyakan mengapa hidupnya begitu berat. Beliau tidak tenggelam dalam keluhan tentang apa yang tidak dimiliki. Beliau justru menjalani kehidupan dengan kesabaran, keteguhan, dan keyakinan kepada Allah.
Orang-orang modern sering hidup dalam budaya tuntutan yang tidak pernah selesai. Sedikit kekurangan terasa penderitaan, sedikit ketidaknyamanan terasa ketidakadilan, seedikit diuji tapi mengeluh banyak. Banyak orang lebih sibuk "mengkhayal" menghitung apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang sudah ada dalam genggaman. Akibatnya, hati mudah gelisah meskipun hidup sebenarnya sudah jauh lebih baik dibanding banyak orang lain yang ada di sekitarnya. Padahal mensyukuri apa yang sudah lebih bahagia.
Oleh karenanya, bahagia menjadi “Hajar” yang tidak banyak menuntut berarti belajar menerima kehidupan dengan hati yang lebih lapang. Bukan berarti manusia tidak boleh memiliki harapan atau cita-cita, tetapi tidak menjadikan hidup dipenuhi keluhan ketika kenyataan tidak selalu sesuai keinginan. Hajar mengajarkan bahwa ketenangan lahir bukan dari terpenuhinya semua keinginan, tetapi dari kemampuan mengelola hati dalam menghadapi kehidupan.
Menjadi orang yang tidak banyak menuntut juga berarti tidak menjadikan orang lain sebagai tempat pelampiasan kekecewaan diri. Banyak hubungan rusak karena manusia terlalu sibuk meminta dipahami, tetapi sedikit berusaha memahami. Sibuk meminta diperhatikan, tetapi lupa memberi perhatian. Padahal cinta dan kehidupan tidak selalu tumbuh dari tuntutan, melainkan dari keikhlasan dan saling pengertian.
Hajar menunjukkan bahwa kesederhanaan hati dapat melahirkan kekuatan jiwa. Beliau hidup jauh dari kemewahan, tetapi dekat dengan ketenangan. Ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya fasilitas hidup. Ada orang hidup sederhana tetapi damai, dan ada yang hidup berlimpah tetapi selalu merasa kurang.
Di zaman sekarang, budaya membandingkan hidup semakin memperbesar rasa tidak puas manusia. Media sosial membuat banyak orang sibuk melihat kehidupan orang lain lalu merasa hidupnya kurang bahagia. Padahal yang terlihat sering hanya permukaan, sementara setiap manusia sesungguhnya memiliki ujian dan perjuangannya sendiri.
Menjadi “Hajar” yang tidak banyak menuntut juga berarti belajar memperbanyak syukur daripada protes terhadap kehidupan. Sebab hati yang selalu menuntut akan sulit merasa cukup. Semakin dituruti, semakin banyak yang diinginkan. Sedangkan hati yang pandai bersyukur akan menemukan kebahagiaan bahkan dalam hal-hal sederhana.
Keteladanan Hajar mengajarkan bahwa manusia tidak harus memiliki segalanya untuk hidup bermakna. Yang paling penting bukan seberapa lengkap dunia yang dimiliki, tetapi seberapa tenang hati dalam menjalaninya. Sebab ketenangan bukan dibeli dengan banyaknya harta, melainkan tumbuh dari kedekatan kepada Allah dan kemampuan menerima hidup dengan bijak.
Tidak banyak menuntut juga membuat manusia lebih mudah menjaga hubungan dengan sesama. Ia tidak terlalu membebani orang lain dengan ekspektasi yang berlebihan. Ia memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan. Dari sini lahir sikap lebih mudah memaafkan, lebih mudah memahami, dan lebih mudah hidup damai bersama orang lain.
Kesadaran ini bukan berarti manusia pasif atau tidak boleh memperjuangkan haknya. Islam tetap mengajarkan keadilan dan tanggung jawab. Namun ada perbedaan antara memperjuangkan hak dengan hati yang bijak dan hidup dalam kebiasaan mengeluh tanpa akhir.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Hajar” yang tidak banyak menuntut adalah ketika hati mampu berkata: “Ya Allah, cukupkan hatiku dengan apa yang Engkau berikan.” Sebab manusia yang terlalu banyak menuntut sering kehilangan kedamaian hidupnya sendiri. Sedangkan manusia yang pandai menerima, bersyukur, dan bersandar kepada Allah akan menemukan ketenangan bahkan di tengah kehidupan yang sederhana.