Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.004
Senin 15 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Hajar” yang Mengubah Kegelisahan Jadi Doa
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Hajar” yang kuat menjalani takdir, maka hari ini kita diajak menyelami keteladanan agung Hajar dalam mengubah kegelisahan menjadi doa dan harapan kepada Allah.
Perhatikanlah, ketika Hajar ditinggalkan bersama Ismail di lembah tandus Makkah, keadaan itu bukan hanya menghadirkan kesepian, tetapi juga kegelisahan. Ya tentu hal ini sangat manusiawi. Seorang ibu yang berjuang dalam kesendirian. Saat persediaan air habis, bekal juga habis, tidak ada manusia lain di sekitar, dan tangisan Ismail bayi kecilnya terus melemah karena kehausan. Namun Hajar tidak membiarkan kegelisahan itu berubah menjadi keputusasaan. Justru Hajar mengubah kecemasan yang sempat dirasa menjadi gerak, air mata menjadi munajat, dan ketidakberdayaan menjadi penghambaan kepada Allah. Inilah senjata pamungkas bagi orang beriman.
Padahal kegelisahan sejatinya adalah bagian dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari rasa khawatir, susah dan gelisah. Ada yang merasa kegelisahan saat memikirkan tentang masa depan, gelisah tentang kesehatan, khawatir tentang keluarga, gelisah tentang rezeki, bahkan tentang diri sendiri. Hati manusia memang diciptakan memiliki rasa takut dan cemas. Namun yang membedakan manusia bukan ada atau tidaknya kegelisahan, melainkan bagaimana ia mengelola kegelisahan itu. Orang beriman mengelolanya agar memvasilitasi rasa bahagia.
Bahagia menjadi “Hajar” yang berusaha mengubah kegelisahan menjadi doa berarti kita sedang belajar menjadikan Allah sebagai tempat kembali, baik ketika lapang maupun apalagi ketika hati mulai sempit. Bisa jadi ada orang ketika gelisah justru lari kepada hal-hal yang makin menjauhkan dirinya dari ketenangan. Ada yang melampiaskan kegelisahan dengan amarah, ada yang dengan keluhan berkepanjangan, ada yang pergi ke cafe-cafe atau bar menenggak minunan keras atau ada yang tenggelam dalam kesibukan dunia tanpa arah. Padahal dengan semua ini hati tidak akan benar-benar bisa tenang kecuali ketika kembali kepada Allah.
Hajar mengajarkan bahwa doa bukan hanya rangkaian kata-kata, tetapi sikap hati yang penuh pengharapan kepada Allah. Ketika beliau berlari-lari antara Shafa dan Marwah, sesungguhnya itu bukan hanya usaha fisik untuk mencari air, tetapi juga doa yang menyertai dalam gerakan dan keyakinan. Seluruh langkahnya adalah ungkapan penghambaan dan harapan bahwa Allah pasti melihat perjuangannya.
Doa memiliki kekuatan luar biasa dalam kehidupan manusia. Doa membuat hati yang gelisah menjadi terhubung dengan Allah zat yang maha pelindung, sehingga dengannya bisa lebih tenang, karena manusia sadar bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi hidup. Ketika manusia berdoa, sesungguhnya ia sedang menyerahkan beban jiwanya kepada zat yang maha kuat, yang maha mendengar dan maha menjawab. Dan seringkali bukan keadaan yang langsung berubah terlebih dahulu, melainkan hati manusialah yang lebih dahulu dikuatkan oleh Allah.
Kegelisahan juga dapat menjadi jalan kedekatan dengan Allah jika disikapi dengan benar. Banyak orang justru lebih bisa dekat kepada Allah ketika sedang berada dalam kesulitan. Air mata yang jatuh dalam doa sering lebih jujur daripada panjangnya ucapan manusia di hadapan sesama. Sebab dalam doa, manusia hadir apa adanya di hadapan Rabb-nya tanpa kepura-puraan.
Di zaman sekarang, kegelisahan menjadi salah satu penyakit jiwa yang semakin banyak dirasakan. Kehidupan modern menghadirkan banyak kemudahan, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenangan. Banyak manusia tampak tersenyum di luar, tetapi hatinya penuh kecemasan. Banyak yang terlihat berhasil, tetapi diam-diam jiwanya lelah. Keteladanan Hajar mengingatkan bahwa ketenangan tidak lahir dari banyaknya dunia yang dimiliki, tetapi dari dekatnya hati dengan Allah.
Mengubah kegelisahan menjadi doa juga berarti tidak membiarkan hati tenggelam dalam prasangka buruk kepada Allah. Hajar tidak berkata, “Mengapa Allah membiarkanku di tempat ini?” Beliau justru tetap percaya bahwa Allah menitip hikmah di balik semua yang terjadi. Dari sini kita belajar bahwa iman bukan berarti tidak pernah gelisah, tetapi tetap mampu kembali berharap kepada Allah di tengah kegelisahan itu.
Ketika manusia mampu mengubah kegelisahan menjadi doa, maka ujian kehidupan tidak lagi hanya menjadi sumber luka, tetapi juga menjadi jalan tumbuhkembang iman. Hati menjadi lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih sadar bahwa kita sesungguhnya sangat membutuhkan Allah dalam setiap detik kehidupannya.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Hajar” yang mengubah kegelisahan menjadi doa adalah ketika hati mampu berkata: “Ya Allah, aku mungkin lemah menghadapi hidup ini, tetapi aku percaya Engkau tidak akan meninggalkanku.” Sebab doa adalah jembatan antara kelemahan manusia dan pertolongan Allah. Dan ketika manusia menjadikan doa sebagai tempat kembali, maka kegelisahan tidak lagi menghancurkan jiwanya, melainkan justru mengantarkannya lebih dekat kepada Rabb semesta alam.