Bahagia Menjadi "Ibrahim" yang Ikhlas

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3991
Selasa, 2 Dzulhijah 1447

Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Ikhlas
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya tentang menjadi “Ibrahim” yang taat, maka hari ini kita diajak melangkah lebih dalam pada hakikat ketaatan itu sendiri yakni seperti keikhlasan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Ya, keikhlasan mempersembahkan apa yang paling dicintai demi Allah. Dan puncak keteladanan ini dapat dipetik dari pragmen kehidupan Nabi Ibrahim as ketika beliau diperintahkan menyembelih putranya tercinta, Ismail. Ismail bukan sekadar anak, tetapi anak yang lahir setelah penantian panjang di usia tua. Namun ketika perintah Allah datang, Ibrahim tidak mendahulukan rasa memiliki di atas ketaatan kepada Rabb-nya.

Keikhlasan melepaskan yang dicintai bukanlah perkara mudah bagi manusia. Hati manusia secara fitrah mencintai keluarga, harta, jabatan, kenyamanan, dan berbagai kenikmatan dunia. Namun seorang mukmin harus sadar bahwa semua yang dimiliki sejatinya hanyalah titipan Allah. Dan suatu saat, Allah dapat meminta kembali apa yang selama ini dicintai manusia.

Bahagia menjadi “Ibrahim” yang ikhlas berarti kita tengah belajar mencintai Allah di atas segala-galanya. Bukan berarti tidak boleh mencintai keluarga atau dunia, tetapi jangan sampai cinta itu membuat manusia jauh dari Allah. Ketika cinta kepada sesuatu membuat seseorang melupakan shalat, melupakan amanah, atau mengabaikan kebenaran, maka saat itu cinta dunia telah melampaui batasnya.

Keikhlasan Ibrahim lahir dari keyakinan bahwa apa pun yang Allah ambil pasti diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Ketika beliau rela mengorbankan Ismail demi Allah, Allah justru menggantinya dengan kemuliaan besar, sembelihan besar dan menjadikan peristiwa itu abadi dalam ibadah kurban hingga akhir zaman. Dari sini kita belajar bahwa tidak ada pengorbanan yang tulus di jalan Allah yang berakhir sia-sia.

Melepaskan yang dicintai tidak selalu berarti kehilangan secara fisik. Kadang manusia diminta melepaskan ego, gengsi, kebiasaan buruk, atau hubungan yang menjauhkan dirinya dari Allah. Ada pula yang harus rela melepaskan sebagian hartanya melalui sedekah, wakaf, dan kurban. Semua itu adalah latihan hati agar tidak diperbudak oleh hal-hal duniawiyh.

Kesadaran bahwa hidup hanyalah titipan akan membuat manusia lebih ringan dalam menghadapi kehilangan. Orang yang sadar semuanya milik Allah tidak akan terlalu sedih ketika sesuatu pergi dari hidupnya. Ia sedih sebagai manusia, tetapi tetap tenang karena yakin Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Keikhlasan Ibrahim juga mengajarkan bahwa pengorbanan sejati tidak selalu dipahami manusia. Banyak orang mungkin tidak mengerti mengapa seseorang memilih jalan kebaikan yang berat, memilih kejujuran saat sulit, atau memilih kesederhanaan di tengah kesempatan duniawi. Namun orang yang hidup karena Allah tidak menggantungkan penilaiannya kepada manusia.

Pada akhirnya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang ikhlas melepaskan yang dicintai adalah ketika hati kita mampu berkata: “Ya Allah, semua ini milik-Mu, dan kepada-Mu semuanya kembali.” Ketika manusia mampu melepaskan sesuatu demi ridha Allah, maka sebenarnya ia sedang membersihkan hatinya dari ketergantungan dunia. Dan di situlah lahir ketenangan yang tidak mudah diguncang oleh kehilangan apa pun di dunia ini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama