Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3990
Senin, 1 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Taat
Saudaraku, tak terasa ya, tahu-tahu sudah bulan Dzulhijah 1447. Muhasabah bulan Dzulkaidah yang baru saja berlalu telah mengantarkan kita pada kesadaran akan ketelitian Allah. Kesadaran akan ketelitian Allah ini seharusnya melahirkan ketaatan yang lebih-dalam kepada-Nya. Dan salah satu teladan terbesar tentang ketaatan ini adalah Ibrahim. Dalam hidupnya, Nabi Ibrahim as tidak hanya beriman kepada Allah, tetapi juga membuktikan imannya melalui ketaatan yang nyata. Ketika diperintah meninggalkan keluarganya di lembah tandus Makkah, beliau taat. Ketika diperintah menghancurkan berhala kaumnya, beliau taat. Bahkan ketika diperintah menyembelih putranya tercinta, beliau tetap taat meski hati seorang ayah tentu sangat berat menjalaninya. Dari sini kita belajar bahwa cinta sejati kepada Allah bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan melalui kepatuhan.
Ketaatan Nabi Ibrahim bukanlah ketaatan tanpa ujian. Justru semakin tinggi kualitas iman seseorang, semakin besar pula ujian yang dihadapinya. Ibrahim harus menghadapi penolakan ayahnya sendiri, ancaman kaumnya, dibakar hidup-hidup, meninggalkan keluarga, hingga diuji dengan pengorbanan anak yang sangat dicintainya. Namun beliau tetap teguh karena yakin bahwa perintah Allah selalu mengandung hikmah dan kebaikan.
Bahagia menjadi “Ibrahim” yang taat berarti kita tengah belajar mendahulukan Allah di atas ego dan keinginan diri sendiri. Meski tidak semua perintah Allah selalu mudah bagi hawa nafsu kita selaku manusia. Ada saatnya kita diminta bersabar ketika ingin marah, diminta jujur ketika ada peluang curang, diminta menutup aurat ketika lingkungan tidak mendukung, atau diminta berkorban ketika hati masih berat melepaskan dunia. Di situlah kualitas ketaatan diuji.
Ketaatan sejati lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Ibrahim tidak selalu mengetahui seluruh hikmah di balik ujian yang dihadapinya, tetapi beliau tetap percaya kepada Allah sepenuhnya. Dari sini kita belajar bahwa iman bukan hanya tentang memahami segala sesuatu, tetapi juga tentang percaya kepada Allah meski tidak semua hal dapat dijelaskan oleh logika manusia.
Menjadi “Ibrahim” yang taat juga mengajarkan agar kita memiliki keberanian untuk tetap benar meskipun sendirian. Ibrahim pernah berdiri sendiri melawan keyakinan kaumnya yang menyembah berhala. Beliau tidak takut dianggap berbeda karena yang beliau cari adalah ridha Allah, bukan penerimaan manusia. Di zaman sekarang, keteladanan ini sangat penting ketika banyak orang lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan nilai kebenaran.
Ketaatan Nabi Ibrahim as juga melahirkan keberkahan yang melampaui zamannya. Namanya disebut dalam doa, ibadah, dan shalawat hingga hari ini. Jejak pengorbanannya diabadikan dalam ibadah haji dan kurban setiap Dzulhijah. Ini menunjukkan bahwa ketaatan yang tulus tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang taat adalah ketika hati kita mampu berkata, “Aku mendengar dan aku taat,” meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. Sebab ketaatan bukan hanya tentang menjalankan perintah, tetapi tentang menyerahkan hati sepenuhnya kepada Allah. Dan ketika manusia mampu meneladani Ibrahim dalam ketaatan, maka hidupnya akan dipenuhi ketenangan, keberkahan, dan kedekatan dengan Rabb semesta alam.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3990