Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 12 Zulhijah 1444
Saatnya Takbir
Saudaraku, hari ini adalah tanggal 12 Zulhijah dikenal dengan hari tasyrik beruntun sehari sebelum dan sesudahnya, merupakan hari kemenangan besar umat Islam, maka takbir dikumandangkan dan kurban ditunaikan di mana-mana.
Di tanah suci sendiri, masih masa melontar jumrah, melempar batu atau jumrah ke satu sasaran yang telah ditetapkan. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa melontar jumrah sebagai simbolisasi atas pernyataan perlawanan diri dan ketidaksukaannya dengan setan, sekaligus membuang jauh-jauh sifat syaithaniyah, sabu'iyah dan hayawaniyah yang masih ada dalam diri masing-masing hambaNya.
Pertama, melontar jumrah sebagai aksi perlawanan terhadap setan. Setan dalam iman Islam adalah musuh abadi manusia karena selalu berusaha menggoda untuk menjerumuskan manusia. Oleh karena setan tidak mati sampai kiamat kelak, maka kita usir dengan kita lempari batu agar menjauh sejauh-jauhnya, sehingga tidak dekat, tidak mendekat, tidak bisa menggoda.
Tetap dalam hal inii harus dipastikan bahwa batu kerikil yang dilempar tidak ada yang dikembalikan dilempar balik ke arah kita oleh "setan". Apalagi setannya sambil ngomel-ngomel "kamu juga setan!" atau "kamu juga iblis!" atau "sesama setan tidak boleh saling melempar". Wah bisa berabe kalau benar-benar terjadi.
Kedua, melempar jumrah sebagai pernyataan sikap melepaskan diri dengan membuang jauh-jauh sifat syaithaniyah, sabu'iyah dan hayawaniyah dalam diri kita agar bersih daripadanya. Lemparan jumrah kira-kira bisa dimaksudkan sebagai aksi membuang atau melepaskan pakaian atau sifat syaithaniah. Mengapa harus dilepaskan, karena sifat-sifat ini sejatinya hanya melekat pada setan saja, tetapi ketika menyelinap di hati manusia, maka harus segera dilepaskan. Sifat setan yang harus dibuang di antaranya suka menyombongkan diri, besar kepala, irihati, dengki, suka mengganggu, mengadu domba, merusak persaudaraan dan sifat setan lainnya. Sombong karena lebih dalam rupa, tahta, harta, keluarga, dan ilmu pengetahuan. Irihati kalau ada temannya yang lebih sukses, dengki kalau saudaranya mendapat karunia yang melimpah, suka membisik-bisiki agar timbul percekcokan, merusak tatanan yang sudah ada dan hal-hal yang merusak tatanan lainnya.
Lemparan jumrah kira-kira juga bisa dimaksudkan sebagai aksi membuang atau melepaskan sifat sabu'iyah yang sejatinya hanya dimiliki oleh binatang buas, semisal harimau, singa, buaya, serigala, seperti mau menang sendiri, sok berkuasa, kerjanya menerkam memakan melumat yang selainnya apalagi yang tidak berdaya.
Nah sifat sabu'iah ini bisa menjangkiti seseorang sehingga kebaikannya bisa tidak tersisa lagi padanya.
Lemparan jumrah kira-kira juga bisa dimaksudkan sebagai aksi membuang atau melepaskan sifat hayawaniah yang sejatinya hanya milik hewan saja seperti rakus, tidak tahu malu, dan kerjanya makan, tidur, dan beranak pinak.
Sifat hayawaniah ini kalau menjangkiti manusia, maka kedudukannya bisa melorot lebih rendah daripada binatang. Allah berfirman yang artinya Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(Qs. Al-A'raf 179)
Dengan lemparan jumrah ula, wustha, dan aqabah diharapkan dapat memastikan diri sudah bersih dan jauh dari sifat-sifat syaithaniyah, sabu'iyah dan bahimiyah.
Bila di tanah suci melontar jumrah dan terus menyempurnakan kaifiat pelaksanaan ibadah haji, maka0 yang tinggal di kediaman negeri masing-masing menunaikan masih menyelenggarakan perayaan idul qurban dengan berkurban dan silaturahim sembari membesarkan Allah dan mengagungkanNya. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamdu.
Dengan mensyukuri Idul adha, hari-hari tasyrik, silaturahim dan penyembelihan kurban tentu juga mengingatkan kita untuk terus taqarrub ilallah atau mendekatkan diri pada Allah, mengakrabkan diri dengan sesama saudara dengan jalan berbagi kebahagiaan agar bisa dinikmati oleh sebanyak-banyak pihak.
Sembari dengan itu, kita juga terus menerus melakukan muhasabah, instrospeksi, mawas diri agar benar-benar menjadi manusia yang manusiawi, bukan manusia yang berhati iblis, bukan manusia berhati singa, dan bukan manusia berhati binatang ternak. Sifat-sifat syaitaniyah, sabu'iyah dan bahimiyah yang masih tersisa kita buang sejauh-jauhnya. Dan dengan melepas sifat yang sejatinya bukan milikbya menjadi alasan untuk bahagia, karena kuta tampil apa adanya sebagai manusia yang manusiawi, berperan sebagai hamba Ilahi dan pemakmur bumi. Semoga. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian