Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.164
Ahad, 29 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Memupuk Solidaritas
Saudaraku, bahagia rasanya terus memupuk solidaritas, yakni belajar mengasah kepekaan hati dan kesediaan untuk hadir bersama orang lain, terutama ketika ada yang membutuhkan perhatian dan pertolongan. Solidaritas membuat kita tidak hanya sibuk dengan urusan sendiri, tetapi juga peduli terhadap keadaan saudara, tetangga, sahabat, kolega, dan sesama manusia. Solidaritas di antaranya mewujud dalam.aksi sosial yang nyata, seperti membesuk saudara yang sedang sakit, menghadiri undangan, bertakziyah kepada saudara yang berduka, atau sekadar menyempatkan diri menyapa mereka yang membutuhkan kehadiran kita.
Dalam muhasabah yang baru lalu, kita belajar bahagia diapresiasi secara proporsional. Apresiasi membuat seseorang merasa dihargai karena ikhtiar dan kontribusinya. Hari ini kita melangkah lebih jauh: bukan hanya menghargai orang lain melalui kata-kata, tetapi juga menunjukkan kepedulian melalui kehadiran dan tindakan nyata. Sebab, solidaritas tidak cukup diucapkan, tetapi perlu dibuktikan. Tidak cukup mengatakan turut merasakan, tetapi juga berusaha hadir untuk meringankan beban sesama.
Membesuk saudara yang sakit, misalnya, merupakan bentuk solidaritas yang sederhana tetapi bermakna. Kehadiran kita mungkin tidak langsung menyembuhkan penyakitnya, tetapi dapat menguatkan hati, menghibur perasaan, dan menumbuhkan harapan. Sapaan yang tulus, doa kesembuhan, perhatian, serta kesediaan mendengarkan keluhannya dapat menjadi penguat bagi orang yang sedang diuji dengan sakit. Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat panjang, melainkan kehadiran orang-orang yang mencintai dan peduli kepadanya.
Demikian pula menghadiri undangan, baik undangan hajatan pernikahan, syukuran, pertemuan keluarga, maupun kegiatan sosial lainnya. Kehadiran kita merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang mengundang sekaligus pengakuan bahwa hubungan persaudaraan perlu dirawat. Kita datang bukan semata-mata untuk menikmati hidangan atau memenuhi kewajiban sosial, melainkan untuk berbagi kebahagiaan, mempererat silaturahim, dan menunjukkan bahwa kita menghargai kebersamaan. Dalam suasana bahagia, kita ikut bergembira; dalam suasana sulit, kita ikut menguatkan.
Islam memberikan perhatian besar terhadap solidaritas dan kepedulian sosial. Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat 10). Ayat ini mengingatkan bahwa persaudaraan iman bukan hanya identitas, melainkan tanggung jawab. Ketika saudara kita sakit, kita peduli. Ketika mereka bersedih, kita menghibur. Ketika terjadi perselisihan, kita berusaha mendamaikan. Ketika mereka memperoleh kebahagiaan, kita turut bersyukur. Persaudaraan menjadi hidup ketika diwujudkan dalam perhatian dan kepedulian.
Rasulullah saw. menggambarkan hubungan antarmukmin dengan perumpamaan yang sangat indah:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh mengeluh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak dapat tidur dan demam.” (HR. Muslim, no. 2586).
Hadis ini mengajarkan bahwa solidaritas merupakan tanda hidupnya persaudaraan. Kita tidak boleh merasa nyaman ketika orang lain sedang menderita, tidak boleh menutup mata ketika sesama membutuhkan pertolongan, dan tidak sepatutnya hanya hadir ketika ada keuntungan yang dapat diperoleh. Sebagaimana anggota tubuh saling merasakan, demikian pula semestinya orang-orang beriman saling peduli.
Bahkan, Rasulullah saw. menjadikan hak seorang muslim atas muslim lainnya sebagai bagian dari tuntunan persaudaraan, di antaranya menjawab salam, memenuhi undangan, memberi nasihat, mendoakan orang yang bersin, membesuk orang sakit, dan mengantarkan jenazah. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, no. 2162. Dengan demikian, membesuk orang sakit dan menghadiri undangan bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga bagian dari akhlak persaudaraan yang diajarkan Rasulullah saw.
Solidaritas juga perlu diwujudkan secara bijaksana. Ketika membesuk orang sakit, hendaknya kita memperhatikan kondisi pasien, waktu kunjungan, serta tidak terlalu lama apabila kehadiran kita justru melelahkan. Ketika menghadiri undangan, kita berusaha memenuhi selama tidak ada halangan yang dibenarkan. Apabila tidak dapat hadir, kita tetap menyampaikan doa, ucapan selamat, atau permohonan maaf. Solidaritas bukan semata-mata soal kehadiran fisik, tetapi tentang ketulusan menjaga hubungan dan kepedulian.
Dalam kehidupan keluarga, solidaritas tampak ketika anggota keluarga saling membantu dan menguatkan. Dalam lingkungan kampus, solidaritas tumbuh ketika sesama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pimpinan saling peduli, bukan hanya ketika merayakan keberhasilan, tetapi juga ketika ada yang menghadapi kesulitan. Dalam masyarakat, solidaritas hadir melalui gotong royong, membantu tetangga yang sakit, menghadiri hajatan, mengunjungi keluarga yang berduka, serta menolong mereka yang tertimpa musibah.
Saudaraku, solidaritas mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang siapa yang hadir untuk kita, tetapi juga tentang sejauh mana kita bersedia hadir untuk orang lain. Jangan sampai kita selalu berharap dikunjungi ketika sakit, tetapi enggan membesuk saudara yang sedang sakit. Jangan sampai kita berharap undangan kita dipenuhi, tetapi tidak pernah berusaha memenuhi undangan orang lain. Jangan hanya ingin diperhatikan, tetapi belajarlah memperhatikan. Sebab, hubungan yang baik tidak dibangun dengan tuntutan sepihak, melainkan dengan kesediaan untuk saling memberi dan menerima.
Dan, solidaritas menjadikan kehidupan terasa lebih manusiawi. Kita memang tidak selalu mampu menyelesaikan persoalan orang lain, tetapi setidaknya kita dapat mengurangi rasa sepi dan beban yang mereka rasakan. Kita mungkin tidak memiliki banyak harta untuk diberikan, tetapi masih memiliki waktu, tenaga, perhatian, doa, dan kepedulian. Terkadang, kehadiran yang tulus jauh lebih bermakna daripada banyaknya kata-kata. Semoga