Bahagia Setiap Aktivitas Bernilai Ibadah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.132
Rabu, 26 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Setiap Aktivitas Bernilai Ibadah
Saudaraku, setelah diingatkan bahwa proses kehidupan dapat meneguhkan hati dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak menyadari bahwa setiap aktivitas sesungguhnya dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada Ilahi. Sebab hidup bukan sekadar bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya, melainkan kesempatan yang Allah berikan agar setiap gerak kehidupan memiliki makna penghambaan kepada-Nya.

Setiap tarikan dan hembusan napas adalah karunia Allah. Setiap langkah, kedipan mata, kata yang terucap, pandangan yang diarahkan, suara yang didengar, pikiran yang digunakan, dan tangan yang digerakkan adalah nikmat yang semestinya disadari sebagai amanah. Tidak ada gerak kehidupan yang benar-benar remeh ketika hati menghadirkannya dalam kesadaran kepada Allah. Allah berfirman: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzāriyāt 56)»

Ibadah dalam pengertian yang luas tidak terbatas pada ritual tertentu. Shalat, puasa, zakat, dan haji adalah ibadah yang secara khusus diperintahkan. Namun bekerja dengan jujur, belajar dengan sungguh-sungguh, mencari nafkah yang halal, merawat keluarga, membantu sesama, menjaga lingkungan, bahkan beristirahat agar tubuh kembali kuat untuk beramal, semuanya dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridhai Allah.

Saudaraku, bahkan tubuh kita sendiri adalah ladang pengabdian. Mata bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk melihat yang baik dan mengambil pelajaran. Telinga bukan sekadar untuk mendengar, tetapi untuk mendengar kebenaran dan menghindari nguping dari perkataan yang buruk. Lisan bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk berdzikir, berkata benar, menasihati, menghibur, dan tidak menyakiti. Tangan bukan sekadar untuk bekerja, tetapi untuk menolong. Kaki bukan sekadar untuk berjalan, tetapi untuk melangkah menuju tempat dan tujuan yang baik.

Begitu pula shalat. Setiap takbir, berdiri, rukuk, i‘tidal, sujud, dan duduk bukan sekadar rangkaian gerakan. Semuanya merupakan  penghambaan: takbir mengagungkan Allah, berdiri menegakkan ketaatan, rukuk merendahkan kesombongan, dan sujud menundukkan seluruh diri di hadapan-Nya.

Demikian juga puasa. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih seluruh anggota tubuh agar ikut berpuasa dari apa yang tidak diridhai Allah. Mata menjaga pandangan, telinga menjaga pendengaran, lisan menjaga ucapan, hati menjaga niat dan prasangka.

Maka semakin tinggi kesadaran seseorang kepada Allah, semakin luas pula makna ibadah dalam kehidupannya. Ia tidak hanya beribadah ketika berada di masjid, tetapi membawa kesadaran pengabdian ketika berada di rumah, tempat kerja, perjalanan, ruang belajar, bahkan ketika sedang sendiri.

Rasulullah bersabda: Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)» Niatlah yang mengubah aktivitas biasa menjadi bernilai ibadah. Tidur dapat menjadi ibadah ketika diniatkan untuk memulihkan tenaga agar dapat beramal. Bekerja menjadi ibadah ketika dilakukan secara halal, amanah, dan untuk memenuhi kewajiban. Belajar menjadi ibadah ketika ilmu yang diperoleh diniatkan untuk kemanfaatan. Mengasuh keluarga menjadi ibadah ketika dilakukan sebagai amanah dari Allah.

Adapun yang benar-benar membuat hidup bernilai bukan banyaknya aktivitas semata, tetapi hadirnya kesadaran kepada siapa aktivitas itu dipersembahkan. Maka, alangkah indahnya jika setiap hari kita mampu hidup dalam kesadaran seperti ini. Ketika membuka mata pada pagi hari, kita menyadari bahwa Allah masih memberi kehidupan. Ketika menghirup udara, kita menyadari bahwa Allah masih memberi kesempatan. Ketika melangkah, kita bermuhasabah apakah langkah ini menuju kebaikan. Ketika berbicara, kita bertanya apakah ucapan ini bermanfaat. Ketika melihat, mendengar, bekerja, belajar, beristirahat, dan berinteraksi, kita senantiasa menyadari bahwa semuanya berada dalam pengawasan dan karunia-Nya.

Dengan kesadaran itu, kehidupan menjadi lebih bermakna. Kita tidak lagi membagi hidup secara kaku antara “waktu ibadah” dan “waktu bukan ibadah”. Selama dilakukan dalam ketaatan dan diniatkan karena Allah, seluruh hidup dapat menjadi pengabdian. Inilah kebahagiaan yang dalam: setiap napas menjadi dzikir, setiap langkah menjadi amal, setiap kata menjadi kebaikan, setiap pekerjaan menjadi pengabdian, dan setiap aktivitas menjadi jalan mendekat kepada Allah.

Maka mari bertanya kepada diri: apakah selama ini aktivitas kita sudah dihadirkan sebagai pengabdian? Untuk apa mata kita melihat, telinga kita mendengar, lisan kita berbicara, tangan kita bekerja, kaki kita melangkah? Dan ketika melakukan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, serta berbagai ibadah lainnya, apakah tubuh kita saja yang bergerak atau hati kita juga benar-benar hadir menghadap Allah?

Ya Allah, ya Rabb sadarkan kami bahwa setiap napas adalah karunia-Mu dan setiap aktivitas adalah kesempatan untuk mengabdi kepada-Mu. Bimbing mata kami untuk melihat kebaikan, telinga kami untuk mendengar kebenaran, lisan kami untuk berkata baik, tangan kami untuk menolong, kaki kami untuk melangkah dalam kebaikan, dan hati kami untuk senantiasa mengingat-Mu. Jadikan seluruh aktivitas kehidupan kami bernilai ibadah dan setiap gerak kami mendekatkan diri kepada ridha-Mu. Āmīn.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama