Bahagia Proses Bisa Meneguhkam

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.131
Selasa, 25 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Proses Bisa Meneguhkan
Saudaraku, setelah diingatkan bahwa proses kehidupan mendewasakan kita dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak menyadari bahwa proses itu juga dapat meneguhkan hati. Sebab dalam sunatullah-Nya, keadaan tidak pernah stagnan pada satu keadaan. Ya menang bukan milik kita selamanya, sebagaimana kalah juga bukan nasib kita yang abadi.

Ada saatnya kita naik dan ada saatnya turun; meninggi dan merendah; mendapatkan dan kehilangan; menggenggam dan melepaskan, dipuji dan dicela; lapang dan sempit; senang dan sedih. Semuanya silih berganti seperti roda kehidupan, sebagaimana siang berganti malam dan malam kembali berganti siang. Allah berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Āli ‘Imrān140)»

Oleh karena itu, tidak elok kita merasa terlalu tinggi ketika berada di atas dan tentu tidak perlu merasa terlalu rendah ketika berada di bawah. Kemenangan dan kekalahan hanyalah keadaan yang kita jalani, bukan identitas kita untuk selamanya. Kedudukan dapat berubah, kekayaan dapat berkurang, popularitas dapat menghilang, dan kekuatan dapat melemah. Tetapi iman harus tetap tegak.

Ketika menang, iman mengajarkan syukur dan menjauhkan kesombongan. Ketika kalah, iman mengajarkan sabar dan melarang keputusasaan. Ketika naik, iman mengingatkan agar tidak melupakan yang berada di bawah. Ketika turun, iman menguatkan bahwa Allah tetap menjadi tempat bersandar. Maka yang perlu kita perjuangkan bukan agar selalu berada di atas, melainkan agar iman tetap tegak dalam keadaan apa pun.

Sebab ada orang yang kedudukannya tinggi tetapi hatinya rendah; hartanya banyak tetapi jiwanya gelisah; popularitasnya tinggi tetapi tidak menemukan ketenteraman. Sebaliknya, ada orang yang sederhana secara lahiriah tetapi kaya dengan iman, syukur, sabar, dan tawakal. Allah berfirman: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d 28)». Inilah pijakan orang beriman: keadaan boleh berubah, tetapi sandaran hati tidak berubah. Ketika dunia bergerak naik turun, ia tetap memiliki Allah sebagai tempat kembali.

Saudaraku, karena itu tentu kita tidak menyia-nyiakan keadaan apa pun yang sedang kita jalani. Kemenangan dapat digunakan untuk bersyukur, kekalahan untuk belajar; kelapangan untuk berbagi, kesempitan untuk mendekat kepada Allah. Menang mengajarkan syukur, kalah mengajarkan sabar; naik mengajarkan rendah hati, turun mengajarkan keteguhan; senang mengajarkan berbagi, sedih mengajarkan empati. Rasulullah bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya.” (HR. Muslim)» Ketika memperoleh kesenangan, ia bersyukur; ketika mengalami kesusahan, ia bersabar. Dengan iman, pergiliran keadaan tidak menjadikannya kehilangan arah, tetapi justru menjadikannya semakin matang dan teguh.

Maka, tidak sepatutnya kita menggantungkan ketenteraman kepada kemenangan, kedudukan, harta, pujian, atau keadaan yang selalu sesuai harapan. Semua itu dapat datang dan pergi. Kita gantungkan hati kepada Allah, karena Dia tidak pernah pergi. Boleh jadi hari ini kita dipercaya memegang amanah, esok amanah itu berpindah kepada orang lain. Hari ini dipuji, esok dilupakan. Hari ini memiliki banyak kesempatan, esok kesempatan itu berkurang. Itulah kehidupan. Yang penting bukan berapa lama kita berada di atas, tetapi bagaimana kita tetap menjadi hamba Allah ketika berada di atas maupun di bawah.

Bahagia itu ketika keadaan boleh berubah, tetapi iman tetap istiqamah; posisi boleh berganti, tetapi prinsip tetap tegak berdiri; dunia boleh naik turun, tetapi hati tetap memiliki pijakan pada Ilahi.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama