Bahagia Menyadari Proses itu Mendewasakan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.130
Senin, 24 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Menyadari Proses itu Mendewasakan
Saudaraku, setelah diingatkan bahwa proses menjalani kehidupan itu penting dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak menyadari lebih dalam bahwa proses kehidupan sesungguhnya adalah ruang Allah mendewasakan kita. Sebab tidak semua yang kita alami harus selalu menyenangkan untuk menjadi sesuatu yang berarti. Ada senang dan sedih, jatuh dan bangun, bertemu dan berpisah, datang dan pergi, naik dan turun, lapang dan sempit, sehat dan sakit, mendapatkan dan kehilangan. Semuanya datang silih berganti. Tidak ada yang berlangsung selamanya. Dan justru melalui pergantian itulah manusia belajar memahami kehidupan

Pergantian juga perubahan merupakan di antara hukum kehidupan yang lazim: tidak selamanya kita berada di atas dan tidak selamanya pula berada di bawah. Ada masa memperoleh dan ada masa kehilangan. Ada masa kuat dan ada masa lemah. Ada masa kita membutuhkan orang lain dan ada masa orang lain membutuhkan kita. Karena itu, ilIslam mengajarkan untuk tidak terlalu larut ketika sedang berada di atas, dan tidak terlalu putus asa ketika sedang berada di bawah. Semuanya sedang berproses.

Saudaraku, kesenangan mendewasakan kita ketika ia mengajarkan syukur. Kesedihan mendewasakan kita ketika ia mengajarkan sabar. Kejatuhan mendewasakan kita ketika ia mengajarkan kerendahan hati. Kebangkitan mendewasakan kita ketika ia mengajarkan keberanian. Pertemuan mengajarkan penghargaan, sedangkan perpisahan mengajarkan keikhlasan.

Begitu pula keberhasilan dan kegagalan. Keberhasilan mengajarkan bahwa usaha memiliki buah, tetapi kegagalan mengajarkan bahwa manusia tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Keduanya sama-sama penting bagi pertumbuhan jiwa. Jatuh tidak selalu berarti kalah, sebagaimana naik tidak selalu berarti menang. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada jiwa kita setelah mengalami keduanya. 

Ada orang yang ketika mendapatkan kedudukan menjadi sombong. Ada pula yang ketika mendapatkan kedudukan justru semakin rendah hati. Ada yang ketika kehilangan harta menjadi putus asa. Ada pula yang justru semakin dekat kepada Allah. Ada yang ketika dipuji semakin lupa diri, tetapi ada yang ketika dipuji justru semakin takut kalau pujian itu membuatnya jauh dari keikhlasan. Maka bukan hanya peristiwa yang menentukan kedewasaan kita, tetapi cara kita merespons peristiwa tersebut.

Saudaraku, bertemu dan berpisah juga merupakan bagian dari proses pendewasaan. Ada orang yang datang membawa kebahagiaan, ilmu, pengalaman, bahkan perubahan besar dalam hidup kita. Ada pula yang pergi meninggalkan kesedihan. Tetapi tidak semua yang pergi berarti kehilangan sepenuhnya. Kadang seseorang yang telah pergi meninggalkan pelajaran, kenangan, nasihat, dan jejak kebaikan yang tetap hidup dalam diri kita.

Demikian pula dengan usia. Ketika muda, kita mungkin mengejar banyak hal. Ketika dewasa, kita mulai memahami tanggung jawab. Ketika usia bertambah, kita mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus dimiliki, tidak semua perkataan harus dijawab, tidak semua persoalan harus dimenangkan, dan tidak semua perpisahan harus disesali.

Kedewasaan adalah ketika kita mulai mampu menerima bahwa hidup tidak selalu harus sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ada saatnya kita menggenggam dan ada saatnya melepaskan. Ada saatnya berbicara dan ada saatnya diam. Ada saatnya berjuang dan ada saatnya menerima. Ada saatnya mengejar dan ada saatnya berhenti. Semua membutuhkan kebijaksanaan.

Itulah mengapa proses kehidupan tidak boleh hanya dinilai dari hasil akhirnya. Bisa jadi seseorang belum mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi selama perjalanan ia menjadi lebih sabar, lebih berilmu, lebih matang, lebih dekat kepada Allah, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Bukankah itu sendiri merupakan keberhasilan yang sangat berharga?


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama