Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3993
Kamis, 4 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Mendahulukan Allah
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya tentang menjadi “Ibrahim” yang tetap teguh di tengah ujian, maka hari ini kita berikhtiar meneladani inti dari keteguhan itu sendiri yakni menomorsatukan atau mendahulukan Allah di atas segala-galanya. Keteladanan itu tampak jelas dalam kehidupan Nabi Ibrahim as yang selalu menempatkan Allah sebagai pusat dari seluruh keputusan dan aktivitas hidupnya. Ketika diperintah meninggalkan keluarganya di lembah tandus Makkah, beliau taat. Ketika diperintah menghancurkan berhala kaumnya, beliau taat. Bahkan ketika diperintah menyembelih putranya tercinta, beliau tetap memilih ridha Allah di atas rasa cintanya kepada dunia.
Mendahulukan Allah atas segalanya berarti menjadikan kehendak-Nya lebih utama daripada hawa nafsu dan kepentingan diri sendiri. Ini bukan perkara mudah, karena manusia memiliki nafsu dan banyak kecenderungan: ingin dipuji, ingin nyaman, ingin dihormati, dan ingin memiliki semuanya. Namun Nabi Ibrahim as mengajarkan bahwa hati yang benar-benar beriman akan selalu bertanya: “Apakah ini diridhai oleh Allah?"
Bahagia menjadi “Ibrahim” yang mendahulukan Allah berarti kita sedang belajar bahwa selain Allah tempatnya bukan di hati kita, belajar menempatkan dunia di tangan. Harta boleh digenggam, jabatan boleh diraih, dan keluarga boleh dicintai, tetapi semuanya tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada Allah. Ketika dunia mulai membuat manusia lalai dari ibadah dan kebenaran, maka saat itu dunia telah menempati posisi yang tidak semestinya.
Kesadaran untuk mendahulukan Allah akan membuat manusia lebih kuat menghadapi godaan kehidupan. Ia tidak mudah tergoda oleh keuntungan haram, karena ridha Allah lebih penting baginya. Ia tidak mudah mengikuti arus yang salah, karena penilaian Allah lebih ia utamakan daripada penilaian manusia.
Ibrahim juga menunjukkan bahwa mendahulukan Allah tidak membuat hidup menjadi sempit, justru melahirkan keberkahan yang luas. Karena ketulusannya, Allah memuliakan namanya hingga disebut oleh miliaran manusia sepanjang zaman. Jejak kehidupannya diabadikan dalam ibadah haji, kurban, dan doa-doa kaum muslimin. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mendahulukan Allah, maka Allah akan memuliakannya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Mendahulukan Allah juga berarti mendahulukan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, hingga kepemimpinan, seorang muslim harus menjadikan petunjuk Allah sebagai dasar sikap dan keputusan. Sebab hidup tanpa petunjuk Allah seringkali hanya mengikuti ego dan kepentingan sesaat.
Kesadaran ini akan melahirkan ketenangan hati yang mendalam. Orang yang mendahulukan Allah tidak terlalu gelisah terhadap dunia, karena ia yakin bahwa Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Ia tidak terlalu takut kehilangan manusia, karena ia tahu bahwa ridha Allah jauh lebih berharga daripada penerimaan makhluk.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang mendahulukan Allah di atas segalanya adalah ketika hati mampu berkata: “Ya Allah, Engkau lebih utama dari apa pun yang aku cintai.” Ketika Allah benar-benar ditempatkan di posisi tertinggi dalam kehidupan, maka hati akan lebih tenang, langkah akan lebih terarah, dan hidup akan dipenuhi keberkahan yang hakiki.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3993