Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.137
Senin, 2 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Cerdas Mengabdi
Saudaraku, setelah kemarin kita belajar bahagia bisa mengabdi dengan ikhlas, hari ini kita melangkah lebih jauh dengan belajar mengabdi secara cerdas. Jika ikhlas berkaitan dengan komitmen, ketulusan niat dan standar kredibelitas, kecerdasan berkaitan dengan ketepatan cara dan standar profesionalitas. Sebab, pengabdian yang baik tidak cukup hanya dilandasi niat tulus, tetapi juga memerlukan ilmu, pertimbangan yang matang, strategi yang tepat, dan kemampuan membaca kebutuhan agar kebaikan yang kita lakukan benar-benar mendatangkan kemaslahatan.
Allah mengingatkan kita untuk bertanya (baca menyerahkan) suatu urusan kepada ahlinya melalui firman-Nya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl 43). Ayat ini mengajarkan pentingnya ilmu dan kompetensi dalam bertindak. Niat baik perlu disertai pengetahuan yang memadai, sebab tindakan yang dilakukan tanpa pemahaman dapat meleset dari tujuan, bahkan terkadang menimbulkan masalah baru. Mengabdi secara cerdas berarti tidak sekadar sibuk bekerja, tetapi memastikan pekerjaan itu benar-benar diperlukan dan memberikan hasil atau istilah sekarang "berdampak".
Seorang guru atau dosen, misalnya, tidak cukup menghabiskan waktu mengajar dan menuntaskan materi, tetapi perlu mengenali kemampuan peserta didik, memilih metode yang sesuai, strategi yang tepat, mengevaluasi proses dan hasil, dan membantu peserta didik untuk belajar memecahkan masalah. Mengajar secara cerdas bukan berarti membuat pembelajaran semakin rumit, melainkan menemukan cara agar ilmu lebih mudah dipahami, menyenangkan, mudah dihayati, dan diamalkan.
Demikian pula seorang pemimpin. Mengabdi secara cerdas bukan berarti mengadakan sebanyak-banyaknya kegiatan, rapat, dan program saja, melainkan menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan nyata. Jika persoalan utama adalah rendahnya mutu pelayanan, solusinya bukan sekadar menambah acara seremonial, tetapi memperbaiki prosedur, meningkatkan kompetensi petugas, menyediakan sistem pengaduan, dan mengukur kepuasan masyarakat. Pemimpin yang cerdas tidak hanya bertanya, “Apa yang sudah kita kerjakan?” tetapi juga, “Apa manfaatnya, siapa yang merasakannya, dan apa yang perlu diperbaiki?”
Dalam kehidupan keluarga, pengabdian secara cerdas juga sangat diperlukan. Orang tua yang ingin anaknya berhasil tidak cukup hanya memberikan nasihat panjang atau menuntut prestasi tinggi. Ia perlu mendengarkan perasaan anak, memahami tahap perkembangannya, memberikan teladan, serta menetapkan batasan yang mendidik. Suami atau istri yang ingin membahagiakan pasangannya tidak cukup hanya bekerja keras memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan, berdialog, dan memahami kebutuhan emosional satu sama lain. Terkadang, perhatian selama sepuluh menit dengan hati yang sungguh-sungguh hadir lebih bermakna daripada berjam-jam bersama tetapi sibuk dengan telepon masing-masing.
Contoh lain, ketika melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan, niat baik saja belum tentu cukup. Jika ada orang sakit, kita perlu membantu menghubungkannya dengan tenaga kesehatan, bukan sekadar memberikan nasihat yang belum tentu benar. Jika ada keluarga yang kesulitan ekonomi, kita dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak sekaligus memikirkan cara agar mereka lebih mandiri. Jika melihat lingkungan kotor, kita tidak cukup mengeluh atau menyalahkan orang lain, tetapi dapat memulai kerja bakti, menyediakan tempat sampah, dan membangun kebiasaan menjaga kebersihan bersama. Pengabdian yang cerdas tidak berhenti pada rasa iba, tetapi mengubah kepedulian menjadi pertolongan yang tepat guna.
Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan dalam segala sesuatu.” (HR. Muslim). Ihsan mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Dalam pengabdian, ihsan berarti menjaga ketulusan sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan, menggunakan waktu secara bertanggung jawab, memanfaatkan sumber daya dengan bijaksana, dan terus belajar dari hasil maupun kekurangan. Bukan sekadar selesai, tetapi selesai dengan baik; bukan sekadar banyak, tetapi bermanfaat; bukan sekadar cepat, tetapi tetap tepat dan benar.
Saudaraku, mengabdi secara cerdas juga berarti memahami bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan cara yang sama. Ada masalah yang memerlukan tindakan segera, ada yang membutuhkan kesabaran, ada yang harus diselesaikan melalui musyawarah, dan ada pula yang menuntut kita mengakui keterbatasan serta meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kecerdasan bukan merasa paling tahu, melainkan mengetahui apa yang perlu dilakukan, kapan melakukannya, bagaimana melakukannya, dan kapan harus belajar dari orang lain. Dengan demikian, ilmu menjadi penerang pengabdian, pengalaman menjadi bahan evaluasi, dan kebijaksanaan membantu kita memilih tindakan yang paling maslahat.
Maka, setelah meluruskan niat, kita memperbaiki cara mengabdi. Sebelum bekerja, pahami tujuannya; ketika bekerja, lakukan dengan sungguh-sungguh; setelah bekerja, evaluasi manfaatnya. Jangan sampai kita kehabisan tenaga untuk kegiatan yang ramai, tetapi melupakan persoalan yang paling membutuhkan penyelesaian. Jangan pula merasa telah berjasa hanya karena banyak berbuat, sebelum memastikan bahwa perbuatan kita benar-benar membawa kebaikan.